Sosok Khamenei yang 37 Tahun Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian. -Anadolu Agenc--
TEHERAN, DISWAYMALANG.ID–Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei gugur dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2) pagi waktu setempat. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan dua pejabat tinggi lainnya akan memimpin Iran dalam periode transisi.
Dikutip dari AFP, Minggu (1/3), Mohammad Mokhber, salah satu penasihat Khamenei, seperti dilansir televisi pemerintah, menyatakan, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei dan seorang pejabat lain dari dewan hukum negara akan menjadi bagian dari trio pada masa transisi tersebut.
Berikut ini sosok Ayatollah ALi Khameini yang 37 tahun menjadi pemimpin tertinggi Republik Islam.
Perjalanan Politik Khamenei
Ayatollah Ali Khamenei adalah pemimpin tertinggi kedua Iran sejak Revolusi Islam 1979. Ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989 dan sejak itu menjadi figur sentral dalam struktur kekuasaan Iran.
Bagi generasi muda Iran, Khamenei adalah satu-satunya pemimpin tertinggi yang pernah mereka kenal. Ia memegang kewenangan luas: mampu memveto kebijakan publik, menentukan arah politik negara, memilih kandidat pejabat publik, serta menjadi panglima tertinggi militer termasuk Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).
Usia 11 Tahun Sudah Penuhi Syarat sebagai Ulama
Ali Khameini lahir di Mashhad pada 1939 dari keluarga religius Syiah, Khamenei telah menunjukkan kapasitas keagamaan sejak kecil dan memenuhi syarat sebagai ulama pada usia 11 tahun. Namun, jalur hidupnya segera berkelindan dengan politik. Sebagai orator yang efektif, ia aktif mengkritik Shah Iran sebelum Revolusi 1979.
Ia ditangkap enam kali oleh polisi rahasia SAVAK, disiksa, dan diasingkan. Setelah revolusi berhasil menggulingkan monarki, Khomeini mengangkatnya sebagai pemimpin salat Jumat di Teheran. Tentu merupakan posisi strategis yang memperkuat legitimasi politiknya.
Khamenei memiliki enam anak dari pernikahannya dengan Mansoureh Khojasteh Baqerzadeh. Di antara mereka, Mojtaba Khamenei paling sering disebut sebagai figur berpengaruh di lingkaran dalam kekuasaan.
Meski tidak ada mekanisme pewarisan otomatis dalam sistem Republik Islam, Mojtaba disebut-sebut memiliki pengaruh signifikan di kantor Pemimpin Tertinggi dan di kalangan elite konservatif.
Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi terkait siapa yang akan menggantikan posisi Khamenei. Majelis Ahli Kepemimpinan memiliki kewenangan untuk memilih pengganti.
BACA JUGA:58.873 Jemaah Umrah RI di Saudi Terdampak Perang Iran, Pemerintah Siapkan Skenario Pemulangan
Dari Presiden ke Pemimpin Tertinggi
Khamenei terpilih sebagai presiden pada 1981 di tengah gejolak politik dan perang Iran–Irak. Konflik delapan tahun dengan Irak itu memperdalam sikap anti-Barat dalam kebijakan luar negeri Iran. Terutama terhadap Amerika Serikat yang secara bertahap memberi dukungan kepada Baghdad.
Sumber:
