Sosok Khamenei yang 37 Tahun Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian. -Anadolu Agenc--
Pada 1989, setelah wafatnya Ayatollah Ruhulloh Khomeini, Majelis Ahli Kepemimpinan memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi. Dalam pidato awalnya, ia merendah:
"Saya adalah pribadi dengan banyak kekurangan, sungguh hanya seorang santri yang rendah hati. Namun, sebuah tanggung jawab telah diletakkan di pundak saya, dan saya akan menggunakan seluruh kemampuan serta iman saya kepada Yang Maha Kuasa untuk menjalankan beban tugas yang berat ini."
Awalnya, Khamenei memang sempat diragukan sebagian kalangan karena latar belakang akademik keagamaan yang dianggap kurang kuat dibanding pendahulunya. Namun, Khamenei perlahan berhasil membangun jaringan loyalis di berbagai institusi: peradilan, media, parlemen, aparat keamanan, hingga Garda Revolusi.
Represi dan Gelombang Protes
Kekuasaan panjang Khamenei juga ditandai oleh serangkaian gelombang protes dan respons keras negara. Pada 1999, protes mahasiswa dibubarkan dengan kekerasan. Tahun 2009, tudingan kecurangan Pemilu memicu aksi besar yang dibalas dengan gas air mata dan penangkapan massal.
Pada 2019, kenaikan harga bahan bakar memicu demonstrasi luas dan pemerintah memutus akses internet. Pada 2022, kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi moral memicu protes besar yang mengguncang Iran. HRANA melaporkan lebih dari 400 korban tewas dalam gelombang aksi tersebut.
Di tengah tudingan pelanggaran HAM, Khamenei tetap mempertahankan narasi bahwa kekacauan dipicu oleh kekuatan asing. "Mereka yang terhubung dengan Israel dan Amerika Serikat menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan beberapa ribu orang," ujarnya. HRANA mencatat ribuan korban tewas dalam berbagai gelombang protes.
BACA JUGA:Balas Israel-AS, Iran Rudal Pangkalan Militer AS di Bahrain, Kuwait, Abu Dhabi, dan Qatar
Program Nuklir dan Ketegangan Global
Pada 2003, Khamenei mengeluarkan fatwa yang melarang pengembangan senjata nuklir, menyebutnya bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, Israel dan negara-negara Barat meyakini Iran menggunakan program energi nuklir sebagai kedok pengembangan senjata.
Kesepakatan nuklir 2015 sempat meredakan ketegangan, namun Amerika Serikat menarik diri pada masa jabatan pertama Presiden Donald Trump. Sejak itu, sanksi ekonomi memperberat kondisi domestik Iran.
Ketegangan meningkat lagi pada 2025 ketika Israel melancarkan operasi militer yang menargetkan fasilitas nuklir Iran. Iran membalas dengan serangan rudal, dan Amerika Serikat turut terlibat dalam eskalasi berikutnya. Serangan terakhir yang menewaskan Khamenei menjadi puncak dari rangkaian konflik tersebut.
Era Baru yang Penuh Ketidakpastian
Kematian Khamenei menandai berakhirnya satu era panjang dalam politik Iran. Selama 26 tahun sebagai pemimpin tertinggi, ia membentuk Iran menjadi negara dengan sistem kekuasaan terpusat, militer kuat, serta kebijakan luar negeri yang keras terhadap Barat.
Kini, dengan 40 hari masa berkabung yang telah ditetapkan, Iran bersiap menghadapi fase transisi yang berpotensi menentukan arah masa depan Republik Islam. Sementara tekanan ekonomi, tuntutan reformasi domestik, dan konflik regional yang belum mereda.
Sumber:
