Bisa Selisih Belasan Jam, Ini Negara dengan Puasa Terlama dan Terpendek di Dunia,
NEGARA-NEGARA di kawasan Eropa Utara mengalami durasi puasa terlama pada Ramadan 2026.-Stein Egil Liland-Pexels--
MALANG, DISWAYMALANG.ID–Durasi puasa yang bervariasi di berbagai belahan dunia menjadi keunikan yang menarik dalam bulan Ramadan 1447 Hijriah. Letak geografis dan posisi matahari menjadi faktor utama yang membuat waktu berpuasa di setiap negara tidak sama. Bahkan, selisihnya bisa belasan jam antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Ramadan 2026 yang jatuh pada akhir Februari hingga Maret 2026 terjadi saat belahan bumi utara masih berada di pengujung musim dingin dan menuju musim semi. Perbedaan panjang siang dan malam yang memengaruhi lama waktu umat Muslim menahan lapar dan dahaga, dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
Negara-Negara dengan Durasi Puasa Terlama
Beberapa negara di kawasan Eropa Utara mengalami durasi puasa terlama pada Ramadan 2026 ini. Umat muslim di kota seperti Reykjavik di Islandia dan Nuuk di Greenland menjalani puasa rata-rata 15 hingga 17 jam per hari.
Durasi itu bisa berubah, bergantung tanggal dan pergerakan matahari. Hal serupa juga terjadi di Finlandia dan Norwegia bagian utara.
Meski belum mencapai puncak musim panas yang bisa membuat siang hari hampir 20 jam, durasi puasa di wilayah ini tetap tergolong panjang dibandingkan negara-negara di kawasan tropis.
Menurut data perhitungan waktu salat global seperti yang dirilis oleh IslamicFinder dan Time and Date, wilayah lintang tinggi cenderung memiliki waktu siang lebih panjang menjelang pertengahan tahun, sehingga durasi puasa pun lebih lama.
Negara-Negara dengan Durasi Puasa Terpendek
Sebaliknya, negara-negara di belahan bumi selatan justru mengalami durasi puasa lebih singkat. Di Cile dan Argentina, umat Muslim diperkirakan menjalani puasa sekitar 11 hingga 13 jam per hari.
Di Afrika Selatan, durasi puasanya juga relatif lebih pendek dibandingkan negara-negara di kawasan Eropa Utara. Sementara itu, negara tropis seperti Indonesia cenderung stabil.
Rata-rata waktu puasa di Indonesia dan negara-negara di sekitar ekuator adalah sekitar 13 jam. Durasi itu hampir sama setiap Ramadan karena panjang siang dan malam yang juga konsisten sepanjang tahun.
Mengapa Bisa Berbeda?
Perbedaan terjadi karena kemiringan sumbu bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari. Semakin jauh suatu negara dari garis khatulistiwa, semakin besar variasi panjang siang dan malamnya.
Itulah sebabnya negara di dekat kutub memiliki perbedaan durasi puasa yang jauh lebih ekstrem.
Meski demikian, dalam fikih Islam terdapat keringanan bagi Muslim yang tinggal di wilayah dengan kondisi siang atau malam ekstrem. Mereka dapat mengikuti jadwal negara terdekat yang lebih moderat apabila kondisi geografis menyulitkan.
Perbedaan durasi ini menjadi bukti bahwa Ramadan adalah ibadah yang dijalani dalam konteks geografis dan astronomis yang beragam. Namun, di mana pun berada, esensi puasa tetap sama. Yakni, menahan diri, memperbanyak ibadah, dan memperkuat solidaritas umat.
Sumber: harian.disway.id
