Tradisi Megengan Polowijen Hidupkan Spirit Ramadan, Generasi Muda Ikut Terlibat
Tradisi Megengan Di Kampung Budaya Polowijen--
POLOWIJEN, DISWAYMALANG.ID—Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, warga Kampung Budaya Polowijen, Kota Malang, menggelar tradisi Megengan dan Nyadran, Selasa (17/2). Kegiatan ini menjadi momentum spiritual sekaligus pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat lintas generasi.
Tradisi Megengan merupakan ritual selametan menjelang Ramadan yang bertujuan memohon keselamatan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa. Sementara Nyadran dilakukan melalui ziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa bersama.
BACA JUGA:Sore Ini Rukyatul Hilal Ramadan 1447 H di 21 Daerah di Jatim, Hasil Diaporkan ke Sidang Isbat
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama dan pembagian makanan tradisional kepada warga. Suasana semakin semarak dengan pertunjukan seni budaya khas Malang yang melibatkan anak-anak, remaja, hingga tokoh masyarakat setempat.
Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi atau yang akrab disapa Ki Demang, mengatakan tradisi ini rutin digelar sebagai upaya menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
BACA JUGA:Viral Rumah Jokowi Muncul dengan Label 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps
“Megengan bukan sekadar seremoni, tetapi bentuk rasa syukur dan sarana memperkuat kebersamaan warga. Tradisi ini harus terus dijaga,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga diikuti mahasiswa yang tengah menjalankan program pengabdian masyarakat, sehingga memberi ruang edukasi budaya bagi generasi muda.
Antusiasme warga terlihat dari tingginya partisipasi masyarakat yang hadir sejak sore hingga malam hari. Tradisi Megengan dan Nyadran di Kampung Budaya Polowijen menjadi simbol kuatnya harmoni antara nilai religius dan kearifan lokal dalam menyambut Ramadan di Kota Malang.
BACA JUGA:BMKG Stasiun Geofisika Malang Gelar Rukyatul Hilal Awal Ramadan 1447 H di Kepanjen
Sumber:
