Food Genomics dan Nutrigenomik, Tren Pola Makan Berbasis DNA untuk Gaya Hidup Sehat yang Lebih Personal
Food genomics menjadi tren kesehatan global dengan menyesuaikan pola makan berdasarkan DNA, membantu nutrisi lebih presisi dan efektif bagi setiap individu--getty images
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Konsep hidup sehat terus berevolusi seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jika sebelumnya pola makan sehat dirumuskan secara umum melalui piramida gizi atau diet populer, kini pendekatan tersebut mulai bergeser ke arah yang lebih personal. Salah satu tren yang semakin mendapat perhatian global adalah food genomics, atau dikenal juga sebagai nutrigenomik. Sebuah pendekatan ilmiah yang mengaitkan nutrisi dengan profil genetik individu.
Food genomics menawarkan cara pandang baru terhadap kesehatan, bahwa respons tubuh terhadap makanan tidak bersifat universal. Perbedaan genetik antarindividu memengaruhi cara tubuh memetabolisme karbohidrat, lemak, protein, menyerap vitamin dan mineral, hingga menentukan sensitivitas terhadap zat tertentu.
Dengan kata lain, pola makan yang efektif bagi satu orang belum tentu memberikan hasil serupa bagi orang lain.
Dari Diet Umum ke Nutrisi Presisi
Selama bertahun-tahun, pendekatan diet konvensional kerap menghasilkan respons yang beragam. Ada individu yang berhasil menurunkan berat badan dengan cepat, sementara yang lain tidak mengalami perubahan signifikan meski menjalani pola makan yang sama.
Fenomena ini mendorong para peneliti untuk menelusuri faktor genetik sebagai variabel kunci.
BACA JUGA:9 Karbohidrat Pengganti Nasi untuk Diet Rendah Gula, Tetap Kenyang Tanpa Lonjakan Gula Darah
Food genomics berangkat dari pemahaman bahwa gen memengaruhi aktivitas enzim, hormon, dan jalur metabolisme yang berperan dalam pengolahan zat gizi. Variasi gen tertentu dapat membuat seseorang lebih sensitif terhadap kafein, lebih sulit memetabolisme lemak jenuh. Ataupun membutuhkan asupan vitamin tertentu dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Pendekatan ini menegaskan bahwa tidak ada satu pola makan ideal untuk semua orang. Nutrisi perlu dipersonalisasi agar manfaatnya lebih optimal dan berkelanjutan.
Bagaimana Food Genomics Bekerja

Pendekatan nutrigenomik menjelaskan mengapa diet tidak bekerja sama pada semua orang, karena gen memengaruhi metabolisme, penyerapan nutrisi, dan risiko penyakit--getty images
Pemeriksaan food genomics umumnya dilakukan melalui pengambilan sampel darah atau air liur. Sampel tersebut kemudian dianalisis di laboratorium untuk memetakan variasi gen yang berkaitan dengan metabolisme nutrisi, sensitivitas makanan, dan risiko penyakit tertentu.
BACA JUGA:9 Buah Rendah Kalori yang Cocok Dikonsumsi saat Diet, Lengkap dengan Jumlah Kalorinya
Proses analisis biasanya memerlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu. Hasilnya tidak berdiri sendiri, melainkan diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik atau tenaga kesehatan terlatih.
Dari data tersebut, disusun rekomendasi nutrisi yang bersifat individual, bukan sekadar daftar makanan boleh dan tidak boleh.
Rekomendasi yang dihasilkan dapat mencakup pengaturan proporsi makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Juga, kebutuhan mikronutrien tertentu seperti vitamin D, B12, atau zat besi, jenis lemak yang lebih sesuai seperti omega-3. Hingga saran pola aktivitas fisik yang mendukung metabolisme tubuh individu.
Deteksi Risiko dan Pencegahan Dini
Sumber: world health organization (who)
