1 tahun disway

Makna di Balik Hujan Meteor Quadrantid, Fenomena Astronomi 2026

Makna di Balik Hujan Meteor Quadrantid, Fenomena Astronomi 2026

Fenomena Astronomi 2026 dibuka dengan hujan meteor Quadrantid yang singkat namun kuat akhir pekan ini.--Eliot Herman/Universe Today--

MALANG, DISWAYMALANG.ID--Fenomena Astronomi 2026 dibuka dengan hujan meteor Quadrantid yang singkat namun kuat akhir pekan ini.

Quadrantid atau sering disebut “Quads” memiliki puncak tahunan yang singkat tetapi intens, biasanya tak lama setelah Hari Tahun Baru.

Hal inilah yang membuat hujan meteor ini terkenal sulit diamati.

Puncak hujan meteor Quadrantid 2026 terjadi pada Sabtu, 3 Januari pukul 03.00 Waktu Universal (UT) atau Jumat malam, 2 Januari pukul 22.00 Waktu Timur AS. Puncaknya berlangsung cepat, sekitar enam jam, dengan perkiraan Zenithal Hourly Rate (ZHR) mencapai 100 hingga 120 meteor per jam dilansir dari Universe Today. 

BACA JUGA:Resah Langit Merah Darah di Pandeglang Pertanda Bencana Dibantah BMKG, Ini Penjelasan Lengkapnya

Namun, Bulan yang hampir purnama membuat pengamatan tahun ini cukup menantang, meski bukan tidak mungkin.

Ditambah lagi, minggu pertama Januari biasanya diiringi suhu yang sangat dingin bagi pengamat di belahan Bumi utara.

Tak heran, bahkan para pengamat hujan meteor yang berdedikasi pun sering melewatkan Quadrantid.

Puncak hujan meteor tahun ini lebih menguntungkan wilayah Eropa, meski Amerika Utara masih berpeluang beberapa jam kemudian ketika titik radian mulai terlihat.

Sayangnya, Bulan Purnama pertama tahun 2026 jatuh pada tanggal yang sama dengan puncak Quadrantid. Bulan Purnama Serigala Januari terjadi sekitar tujuh jam setelah puncak hujan meteor. 

BACA JUGA:Jangan Lewatkan, Supermoon dan Hujan Meteor Taurids Hiasi Langit Rabu Malam, 5 November 2025!

Quadrantid memiliki deklinasi radian yang relatif tinggi, sekitar 72 derajat.

Aliran meteor ini mendekati Bumi hampir tegak lurus, yang berarti mirip dengan hujan meteor Geminid Quadrantid sudah bisa mulai terlihat sebelum tengah malam waktu setempat.

Kecepatan meteor Quadrantid relatif sedang, sekitar 41 kilometer per detik relatif terhadap Bumi.

Sumber hujan meteor Quadrantid adalah asteroid dan kemungkinan komet yang telah punah 2003 EH1, sebuah objek misterius dengan periode orbit pendek sekitar 5,5 tahun mengelilingi Matahari.

Quadrantid sendiri telah dikenal sejak awal abad ke-19.

BACA JUGA:9 Fenomena Langit Oktober 2025: Parade Kosmik yang Tak Boleh Dilewatkan

Asal Nama Quadrantid

Nama hujan meteor ini berasal dari rasi bintang abad ke-18 yang kini sudah tidak digunakan lagi, yaitu Quadrans Muralis atau Kuadran Dinding.

Ini adalah alat yang dahulu digunakan untuk mengukur posisi bintang. Quadrans Muralis termasuk salah satu dari banyak rasi usang yang ditinggalkan ketika International Astronomical Union (IAU) menetapkan daftar resmi 88 rasi bintang modern pada tahun 1922.

Saat ini, titik radian hujan meteor Quadrantid berada di rasi Boötes (Sang Gembala).

Cara terbaik untuk mengatasi cahaya Bulan adalah mengamati dari lokasi yang memungkinkan Bulan terhalang bangunan atau bukit. 

Meski mungkin tidak terasa, akhir pekan ini kita juga menyaksikan peristiwa lain, yakni Bumi mencapai perihelion pada 3 Januari pukul 17.16 UT.

BACA JUGA:Deretan Fakta Sejarah Campur Tangan AS di Amerika Latin

Pada saat itu, Bumi berada pada jarak terdekatnya dari Matahari, yakni sekitar 0,9833 AU (91,45 juta mil atau 147,17 juta kilometer).

Cobalah memotret Matahari akhir pekan ini, lalu bandingkan dengan foto saat Bumi mencapai aphelion pada 6 Juli mendatang. 

Kamu terlewat momen ini?

Tenang, masih banyak hujan meteor dan peristiwa langit lainnya yang menanti, seiring dimulainya tahun pengamatan langit yang sibuk pada 2026. 

Sumber: disway.id