5 Jenazah Santri Al Khoziny Kembali Ditemukan, 50 Orang Diduga Masih Tertimbun
Memasuki hari kelima operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) pasca runtuhnya bangunan di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Kabupaten Sidoarjo, tim SAR gabungan kembali menemukan lima korban meninggal dunia pada Jumat (3/10/2025).--disway news network
MALANG, MALANGDISWAY.ID – Setelah penemuan 2 jenazah santri di bawah reruntuhan area tempat wudu Ponpes Al Khoziny Buduran, Sidorjo, pada Jumat (3/9) pagi, siangnya ditemukan lagi 3 jenazah. Dengan penemuan 5 jenazah tersebut, data santri yang belum diketahui keberadaanya tinggal 50 orang, dari semula 58 orang.
Hal itu diungkapkan Kapolda Jawa Timur Irjen Nanang Avianto. “Dari data awal, ada 58 orang yang belum diketahui keberadaannya. Tadi (kemarin, red) lima di antaranya sudah ditemukan," ujarnya saat bersama Pejabat Utama (PJU) Polda Jatim meninjau langsung proses evakuasi, kemarin.
Empat jenazah dievakuasi secara bertahap dari sektor A2, yakni korban ke-19 pada pukul 07.30 WIB, korban ke-20 pada pukul 07.36 WIB, korban ke-21 pada pukul 10.19 WIB, serta korban ke-22 pada pukul 11.34 WIB. Sementara itu, dari sektor A3, tim SAR berhasil mengevakuasi korban ke-23 pada pukul 14.00 WIB.
Dengan penambahan ini, total korban runtuhnya Ponpes Al Khoziny tercatat 113 orang. Sebanyak 103 orang dinyatakan selamat, sementara 10 lainnya meninggal dunia. Dari jumlah korban meninggal, empat telah berhasil diidentifikasi. Hingga kemarin, total 23 korban telah dievakuasi dari reruntuhan.
Kapolda Jatim menegaskan, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dilakukan tanpa henti selama 24 jam. Proses evakuasi melibatkan personel gabungan, peralatan berat, serta tenaga ahli konstruksi guna meminimalisir risiko bangunan yang masih rawan runtuh.
"Kami bagi dalam tiga klaster, yakni santri, pengurus pesantren, serta pegawai yang terlibat dalam renovasi pembangunan gedung," ujarnya.
SAR Gandeng Ahli ITS dan Kementerin PUPR
Untuk memastikan keamanan, Polda Jatim turut menggandeng tenaga ahli dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Menurut Kapolda, evakuasi tidak bisa dilakukan secara sembarangan karena ada korban yang sudah terdeteksi posisinya di bawah puing. "Pemindahan puing tidak bisa sembarangan, karena ada jenazah yang sudah kami profiling di dalamnya," ucapnya.
Lebih lanjut, Kapolda menekankan bahwa fokus utama pihaknya saat ini adalah pencarian korban serta penanganan kemanusiaan.
Aspek penyelidikan penyebab runtuhnya bangunan akan dilakukan setelah semua korban berhasil dievakuasi. "Dari waktu kejadian hingga sekarang memang sudah melewati fase golden time, namun kami tetap melanjutkan evakuasi hingga semua korban ditemukan," paparnya.
"Indikasi awal penyebab runtuh nanti akan dijelaskan oleh tenaga ahli agar valid secara ilmiah. Jadi, sabar dulu, kita selesaikan evakuasi korban," lanjutnya.
Saat ini, Polda Jatim juga telah menyiapkan posko data identitas korban untuk memudahkan keluarga dalam proses pencarian.
Proses evakuasi terus berlangsung dengan mengedepankan koordinasi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan darurat.
Operasi SAR ini melibatkan ratusan personel lintas instansi, termasuk Kantor SAR Surabaya, BSG, Kantor SAR Semarang, Kantor SAR Yogyakarta, BPBD Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, PMI, Damkar, hingga berbagai organisasi potensi SAR seperti Banser Sidoarjo, DMC, Hujung Galuh Rescue, Kanjuruhan Rescue, IOF Rescue, serta relawan lainnya.
Sumber: disway news network
