Prediksi Inflasi 2025–2026, Indonesia Relatif Oke Dibanding Negara ASEAN Lain
Ilustrasi inflasi--pinterest
MALANG, DISWAYMALANG.ID--Berdasarkan laporan Asian Development (ADB) Bank yang dikutip melalui GoodStats mengenai prediksi inflasi Asia Tenggara 2025–2026, terlihat variasi yang cukup mencolok antar negara.
Myanmar diprediksi mengalami inflasi tertinggi dengan 29,3 persen di 2025, meski sedikit turun menjadi 20 persen pada 2026. Angka ini menunjukkan tantangan ekonomi dan politik domestik yang masih berat.
Laos menyusul dengan inflasi 13,5 persen di 2025 dan 10,4 persen pada 2026, mencerminkan tekanan struktural yang masih kuat, seperti ketergantungan pada impor dan lemahnya nilai tukar.
Sementara itu, Vietnam diprediksi mengalami inflasi moderat sebesar 4 persen di 2025 dan 4,2 persen di 2026, sedangkan Kamboja mengalami penurunan dari 3,7 persen menjadi 2,4 persen, menandakan stabilitas ekonomi yang membaik.
Filipina dan Timor-Leste mempertahankan tingkat inflasi yang cukup stabil di kisaran 3 persen dan 2,9 hingga 2,6 persen, menunjukkan kestabilan harga yang cukup baik.
Indonesia dan Malaysia mencatatkan proyeksi inflasi yang rendah dan stabil, masing-masing sebesar 2 persen dan 2,5 persen sepanjang 2025 dan 2026. Ini menunjukkan efektivitas koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Singapura dan Thailand tetap menjadi negara dengan inflasi terendah di kawasan, masing-masing diproyeksikan 2 persen dan 1 persen pada 2025.
Bahkan Brunei Darussalam diperkirakan mengalami deflasi -0,2 persen pada 2026, setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,5 persen di 2025.
Negara dengan inflasi tinggi perlu fokus pada upaya stabilisasi harga dan perlindungan daya beli masyarakat, sedangkan negara dengan inflasi rendah harus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Bersiap, Agar Tabungan Tak Tergerus
Lalu bagaimana dengan kita sebagai masyarakat menghadapi proyeksi inflasi tersebut? Terutama jika terjadi kondisi yang membuat proyeksi tersebut tidak terwujud dan angka inflasi naik tinggi?
Menurut pakar ekonomi Prof. Dr. Imam Mukhlis, S.E., M.Si. setiap dividu maupun pelaku usaha perlu mempersiapkan diri menghadapi dampak inflasi.
"Tanpa kesiapan, inflasi dapat menggerus tabungan, menaikkan biaya hidup, serta menekan margin keuntungan bisnis," ujar Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Malang ini.
Di sinilah pentingnya memperhatikan proyeksi inflasi. Dengan informasi prediktif ini, pemerintah dapat menyesuaikan kebijakan fiskal, perusahaan bisa mengatur strategi harga, dan masyarakat bisa lebih cermat dalam mengelola keuangan. (*)
Sumber:
