Memilih Gaya Komunikasi Yang Tepat: Cara Berbicara dengan Keluarga Dengan Berbagai Karakter Saat Lebaran

-pngtree-
Misalnya, "Kamu sekarang kerja di mana?" atau "Udah ada rencana liburan belum?" Biasanya, orang yang suka bicara akan lebih senang jika mereka yang jadi pusat perhatian. Dengan begitu, percakapan bisa lebih terkendali.
5. Berkomunikasi dengan Kakek-Nenek yang Nostalgik
Orang tua biasanya suka mengenang masa lalu. "Dulu, zaman kakek, nggak ada yang namanya HP!" adalah kalimat yang sering keluar. Jika menghadapi mereka, jangan buru-buru bilang "Zaman udah beda, Kek!"
Dengarkan cerita mereka, beri respons yang menunjukkan antusiasme, seperti "Wah, gimana dulu kalau mau komunikasi, Kek?" Dengan begitu, mereka merasa dihargai dan suasana tetap menyenangkan.
6. Menyesuaikan Diri dengan Keluarga yang Sensitif
Beberapa orang mudah tersinggung jika pembicaraan tidak sesuai harapan. Misalnya, bertanya "Kapan nikah?" bisa membuat seseorang tidak nyaman. Oleh karena itu, hindari pertanyaan yang terlalu pribadi.
Sebaliknya, bicarakan hal yang lebih umum, seperti film terbaru, rencana liburan, atau bahkan makanan favorit. Dengan begitu, suasana tetap cair tanpa risiko melukai perasaan siapa pun.
7. Menghindari Obrolan yang Berujung Ghibah
Di setiap keluarga, pasti ada satu-dua orang yang suka mengomentari orang lain. "Eh, si A makin gemuk, ya?" atau "Si B kok belum kerja?" Jika sudah mulai mengarah ke gosip, segera alihkan pembicaraan.
Bisa dengan menyebutkan hal positif, seperti "Ngomong-ngomong, ketupat tahun ini lebih enak, ya?" atau "Ada yang udah nonton film baru?" Dengan begitu, pembicaraan tetap sehat dan tidak menyinggung siapa pun.
8. Menghadapi Anggota Keluarga yang Hobi Pamer
Ada tipe saudara yang selalu membanggakan pencapaiannya, mulai dari karier, bisnis, hingga gadget terbaru. Jika tidak ingin terjebak dalam perbandingan, cukup berikan respons netral seperti "Keren banget! Semoga makin sukses!"
Tidak perlu ikut-ikutan pamer atau merasa tersaingi. Ingat, setiap orang punya jalannya masing-masing. Fokus menikmati kebersamaan daripada sibuk membandingkan pencapaian.
9. Menjaga Percakapan agar Tetap Menyenangkan
Intinya, komunikasi yang baik adalah yang bisa membuat semua orang merasa nyaman. Menyesuaikan diri dengan lawan bicara bukan berarti kehilangan jati diri, tapi lebih kepada membangun suasana yang harmonis.
Sumber: unair.ac.id