Muhammadiyah Ingatkan Danantara Harus Diawasi Ketat karena Libatkan Dana Publik

Muhammadiyah Ingatkan Danantara Harus Diawasi Ketat karena Libatkan Dana Publik

Haedar Nashir didampingi Muhadjir Effendy saat memberi keterangan soal Danantara, di sela-sela Rakornas Muhammadiyah di Kampus UMM, Rabu (26/2)--Humas UMM

TLOGOMAS, DISWAYMALANG.ID-- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, menekankan bahwa pengawasan terhadap Daya Anagata Nusantara (Danantara) harus dilakukan dengan optimal. 

Hal ini dikarenakan keberadaan dana publik di dalamnya, sehingga transparansi dan akuntabilitas menjadi aspek yang krusial.

Haedar menekankan bahwa saat ini yang terpenting adalah bagaimana Danantara dapat diimplementasikan secara konkret.

Ia juga menambahkan bahwa ini sejalan dengan visi dan komitmen politik Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kebijakan ekonomi yang berpihak pada masyarakat.

"Danantara sebuah political will yang bagus, harus kita dukung," ujarnya saat diwawancarai selesai Rakornas Bidang Ekonomi di Universitas Muhammadiyah Malang, Rabu (26/2).

Pengawasan yang ketat menjadi hal krusial bagi Danantara, mengingat program strategis ini mengelola dana publik.

Yang lebih penting, implementasinya harus selaras dengan dinamika ekonomi nasional agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Apa Itu Danantara?

Sebagai institusi pengelola investasi di Indonesia, Danantara yang nama lengkapnya adalah Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), memiliki peran strategis dalam menghimpun serta memaksimalkan pemanfaatan aset negara

Lembaga yang dibentuk guna mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional itu, diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (24/5).

Acara peluncuran berlangsung di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, menandai langkah baru dalam pengelolaan investasi nasional.

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo turut mengesahkan Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2025 yang merupakan dasar hukum pendirian Danantara.

Meski baru saja diluncurkan, Danantara berhasil masuk jajaran sovereign wealth fund (SWF) atau badan pengelola investasi (BPI) dengan aset terbesar di dunia.

Dengan mengelola aset senilai Rp9.000 triliun, Danantara menempati peringkat kedelapan sebagai Badan Pengelola Investasi (BPI) terbesar di dunia. Ke depan, Prabowo menargetkan peningkatan nilai aset yang dikelola hingga mencapai setidaknya US$900 miliar, atau sekitar Rp14.715 triliun.

Pada tahap awal, Danantara bakal menaungi tujuh  BUMN raksasa, diantaranya: 

  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., 
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., 
  • PT PLN (Persero), 
  • PT Pertamina (Persero), 
  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., 
  • PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk., 
  • PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. 

Sumber: