Hilal: Antara Kepastian Angka, Kesalehan Mata, dan Dewasanya Kita
Ilustrasi Kepala Kantor Wilayah Kemenag Syafitri Irwan saat apemantauan hilal 1445 Hijriah di Palembang, Jumat (28/2/2025). Rukyat adalah bentuk ketaatan yang murni, sebuah pengalaman spiritual menatap tanda-tanda kebesaran Allah Swt di ufuk barat. -antar--
SUDAH jadi ‘tradisi’ tahunan. Setiap masuk bulan Syawal atau Ramadan, kita seperti ditarik ke dalam pusaran diskusi yang itu-itu saja: kapan mulai puasa? Sebagian dari kita sudah tenang dengan kalender di dinding yang dipaku jauh-jauh hari. Sebagian lagi masih setia menunggu layar televisi, menanti kabar dari pinggir pantai atau puncak observatorium.
Bagi saya, perbedaan antara Hisab (perhitungan) dan Rukyat (pengamatan) bukan sekadar urusan teknis astronomi. Ini adalah pertemuan antara dua kutub besar dalam peradaban Islam: kepastian akal dan kerendahan hati batin. Mari kita bedah dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
BACA JUGA: UIN Malang Gelar Wisuda Periode I Tahun 2026, 800 Wisudawan Resmi Dikukuhkan
Warisan ‘Umat yang Ummi’
Ilustrasi kegiatan rukyat. Rukyat adalah bentuk ketaatan yang murni, sebuah pengalaman spiritual menatap tanda-tanda kebesaran Allah Swt di ufuk barat. -nu online--
Dulu, pada zaman Nabi, ketersediaan teknologi tidak seperti sekarang. Nabi Muhammad saw bersabda dengan sangat jujur dalam Hadis Riwayat Bukhari: "Sesungguhnya kita adalah umat yang ummi, kita tidak bisa membaca dan tidak bisa menghitung."
Itulah mengapa beliau memerintahkan Rukyat—melihat bulan secara langsung. Mengapa? Karena itu adalah cara paling adil dan demokratis. Semua orang, baik di kota maupun di pelosok gurun, bisa melakukannya tanpa butuh alat canggih. Ini adalah pendekatan Bayani, yang bersandar pada teks dan praktik langsung. Rukyat adalah bentuk ketaatan yang murni, sebuah pengalaman spiritual menatap tanda-tanda kebesaran Allah Swt di ufuk barat.
Namun, zaman sudah berubah. Kita bukan lagi umat yang tidak bisa menghitung tapi sudah mengenal sains dan teknologi yang sedemikian majunya.
BACA JUGA:UNHASY Jombang Jajaki Kerja Sama Strategis dengan UIN Maliki Malang

Prof. Dr. Suhartono S.Si M.Kom, penulis. -dok. pribadi--
Hisab: Ketika Agama Bertemu Logika
Di kutub lain, muncul Hisab. Ini adalah praktik Burhani—pendekatan logika dan ilmu pengetahuan. Logikanya sederhana: jika Allah memerintahkan kita memperhatikan peredaran bulan dan matahari, dan jika ilmu falak (astronomi) sudah bisa menghitung posisi bulan hingga ribuan tahun ke depan dengan akurasi detik, mengapa kita tidak menggunakannya?
Bagi penganut Hisab, Islam adalah agama yang rasional. Menghitung bulan dengan matematika adalah bentuk mensyukuri nikmat akal. Keunggulannya jelas:
- Kepastian: Kita bisa merencanakan cuti, jadwal kerja, hingga tiket mudik dengan tenang.
- Independen: Tidak peduli hujan badai atau langit mendung, posisi bulan tetap bisa dipastikan secara matematis.

Ilustrasi Muhammadiyah menggagas kalender Hijriah global tunggal berdasarkan hisab. -pwmjateng.com--
BACA JUGA:Indonesia Jadi Negara Pertama yang Beli Properti di Mekah-Madinah via Proyek Kampung Haji
Titik Perdebatan: 0 Derajat vs 3 Derajat
Lalu, kenapa bisa beda hari? Nah, di sinilah ‘dapur’ teknisnya. Masalahnya bukan pada matematikanya, tapi pada kriterianya. Ada dua mazhab besar di Indonesia yang sering kita temui:
- Wujudul Hilal (Asal Kelihatan): Pokoknya, begitu matahari terbenam, posisi bulan sudah di atas ufuk (meski hanya 0,1 derajat), maka besok sudah bulan baru. Ini adalah kepastian angka yang mutlak.
- Kriteria MABIMS (3 Derajat): Ini lebih ketat. Hitungan saja tidak cukup. Bulan harus punya ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. Mengapa? Karena secara sains, di bawah angka itu, hilal mustahil bisa dilihat mata manusia akibat kalah oleh cahaya senja (syafak). Ini adalah titik temu antara hitungan (Hisab) dan kemungkinan melihat (Rukyat).
Ilustrasi rekomendasi kriteria MABIMS (3 Derajat) jelang Lebaran 2017. Kriteria ini lebih ketat. Bulan harus punya ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat. -tdjamaluddin.wordpress.com--
BACA JUGA:UIN Maliki Malang Dapat Peran Strategis dalam Reformasi Kesehatan Haji Nasional
Bayangkan, hanya karena selisih 2 derajat di langit yang maha luas itu, kita di bumi bisa berbeda hari dalam merayakan kemenangan.
Menuju Dewasa dalam Beragama
Sumber:
