Angka Prevalensi Stunting pada Balita di Kota Batu Turun Jadi 10,1%
Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat acara jambore Kader dan Gebyar Posyandu Kota Batu di Hotel Shinghasari Kota Batu, Rabu (12/11)--
BATU, DISWAYMALANG.ID--Angka prevalensi stunting pada balita di Kota Batu turun menjadi 10,1% per September 2025 (dari total 1.084 anak balita yang stunting) dan target turun menjadi 8% pada akhir 2025. Demikian diungkap oleh Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat acara Jambore Kader dan Gebyar Posyandu Kota Batu di Hotel Shinghasari Kota Batu, Rabu (12/11).
"Peran kader PKK dalam penirunan angka stunting di Batu sangat besar. Sebab para kaderlah yang selalu hadir dan mencatat perkembangan anak," kata Heli Suyanto saat memberi sambutan di hadapan ratisan kader.
Diungkapkan, itu data sampai bulan September, pemerintah akan memantau terus. Karena targetnya tahun ini menurun sampai angka 8 persen dari tahun kemarin. "Semoga tercapai karena kami melihat semua pihak terkait sudah berusaha maksimal menangani program stunting ini," ungkap Heli.
Dalam jambore kali ini, Heli mengapresiasi kader Desa Pesanggrahan yang telah membuat aplikasi semua data lansia ada di genggaman. "Para kader di Desa Pesanggrahan telah membuat aplikasi untuk data lansia dan data yang diperlukan dalam Posyandu," terangnya.
Dijelaskan, dirinya masih belum mengetahui secara detail, namun aplilasi ini akan membantu kerja para kader di desa dan kelurahannya," tuturnya.
Sementara itu, Administrator Kesehatan Ahli Muda Dinas Kesehatan Kota Batu Emi Kusrilowati mengatakan, Dinkes membuat serangkaian intervensi gizi dan program pembinaan kesehatan ibu hamil dan anak balita.
Dinkes membuat kelas ibu hamil untuk mencegah kekurangan energi kronis yang bisa beresiko melahirkan dengan berat badan bayi lahir rendah (BBLR). "Kelas ini memberikan pendampingan terpadu terkait gizi, nutrisi dan perilaku kesehatan calon ibu," papar Emi Kusrilowati. Target intervensi biasanya sekitar 10 minggu agar anak dapat ‘lulus’ dari kondisi stunting.
Sumber:
