1 tahun disway

Peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE Digelar Khidmat di Kota Batu

Peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE Digelar Khidmat di Kota Batu

Pembacaan Paritamandala dalam peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE di Padepokan Vihara Dhammadipa Arama Kota Batu-Sholeh-Diswaymalang.id

BATU, DISWAYMALANG.ID--Peringatan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE di Padepokan Vihara Dhammadipa Arama, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu berlangsung khidmat, Minggu (31/5).

Sebanyak 500 umat Budha dengan memadati vihara terbesar di Jawa Timur tersebut untuk mengikuti rangkaian ritual agung Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE.

BACA JUGA:Menjelang Detik-Detik Waisak: Vihara Gelar Baksos Gratis untuk Semua Kalangan, Hadirkan Semangat Cinta Kasih

Sekretaris Padepokan Vihara Dhammadipa Arama Pandita Suyanto menjelaskan, rangkaian Trisuci Waisak dimulai sejak pukul 10.30 dengan prosesi Pindapata, yakni para biksu berjalan menerima persembahan dari umat.

Dalam kesempatan tersebut, Vihara Dhammadipa Arama juga menggelar bakti sosial kesehatan untuk umum. Beragam fasilitas pengobatan dihadirkan, mulai akupuntur, donor darah, hingga terapi dalong (pijat tulang belakang).

“Rangkaian hampir sama seperti tahun lalu. Hanya saja, tahun ini ada tambahan terapi longevitology atau terapi energi alam,” katanya.

BACA JUGA:Mahasiswa Lintas Agama di UIBU Malang Makan Kurban Bersama, Suasana Toleransi Jadi Sorotan

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan ritual Fangsen atau pelepasan makhluk hidup kembali ke alam bebas sekitar pada pukul 12.00.

Selanjutnya pukul 12.30-15.00 WIB seluruh umat berkumpul untuk melaksanakan pembacaan Paritamandala. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan puja bakti, pembacaan parita, dan pradaksina.

"Puncak peringatan detik-detik Waisak tahun ini jatuh tepat pukul 15.44 WIB. Yang tahun sebelumnya jatuh pada malam hari," tambahnya.

BACA JUGA:Tips Minum Air Zamzam: Doa, Adab, dan Khasiatnya menurut Sunah

Pandita Suyanto menguraikan, dalam rangkaian Puja Bakti, para umat melakukan prosesi pradaksina. Mereka berjalan perlahan dalam barisan yang rapi. Di tangan mereka, tergenggam erat sarana puja seperti dupa merah, lilin wewangian, dan tangkai bunga sedap malam.

"Prosesi ini sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada Sang Buddha. Rangkaian prosesi kemudian ditutup dengan meditasi dan ceramah,”tegasnya.

Sumber: