Jangan Biarkan Jalur Klemuk Terus Memicu Kecelakaan
Rambu larangan melintasi jalur Klemuk-panca rp-
BATU, DISWAYMALANG.ID–Jalur alternatif Klemuk di Jalan Rajekwesi, Desa Songgokerto, kembali menjadi sorotan tajam. Bukan karena keelokan panorama pegunungannya, namun karena kondisi infrastruktur keselamatannya yang kian memprihatinkan di tengah arus mudik/balik Lebaran 2026.
Pembatas portal jalan yang sejatinya menjadi 'benteng terakhir' penghalau kendaraan roda empat (R4) kini tampak merana. Besi horizontalnya melengkung parah, sementara tiang penyangganya miring tak lagi kokoh. Tercatat, besi pengaman tersebut telah dihantam lebih dari 20 kali oleh kendaraan yang nekat lewat atau pengemudi yang tidak sadar akan keberadaan penghalang tersebut.
Sejarah yang Menjadi Bumerang
Jalur ini awalnya dibangun sebagai solusi darurat saat terjadi longsor di kawasan Payung Satu sekitar tahun 2009. Namun, kenyamanan semu berupa jarak tempuh yang lebih pendek membuat sulit dijangkau, meskipun jalur utama Batu-Pujon telah lama pulih.
"Masyarakat sudah terbiasa. Memang secara waktu dan jarak, Klemuk unggul. Tapi secara konstruksi, ini sangat berbahaya, baik saat menanjak maupun menurun," ujar Rudi Hartono, salah satu tokoh masyarakat Songgoriti, Kamis (26/3).
Nekat "Nrombol" meski Nyawa Terancam
Pada musim Lebaran 2026 ini, pihak kepolisian dan Pemerintah Kota Batu sebenarnya telah menetapkan aturan tegas: Jalur Klemuk ditutup total bagi R4 dan sepeda motor dari arah atas (Pujon ke Batu). Arus hanya diperbolehkan untuk kendaraan dari arah bawah (Batu menuju Pujon).
Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain. Banyak pengendara yang tetap "nrombol" atau nekat melintas demi memangkas waktu. Mengabaikan risiko rem blong di turunan curam yang panjang tersebut.
"Kalau lewat jalur Payung itu relatif landai karena memutar lereng gunung. Tidak terasa kalau naik gunung, meski memang waktunya lebih lama," tambah Rudi.
Warga sekitar sebenarnya tidak tinggal diam. Berbagai upaya mandiri telah dilakukan, mulai menyediakan tumpukan pasir untuk menghentikan keadaan darurat hingga pemasangan portal di depan Hotel Pujon View. Namun, kecelakaan demi kecelakaan terus terjadi hingga berada pada titik ketika warga mulai merasa "biasa" dengan kabar duka.
Rudi Hartono menegaskan bahwa perbaikan portal saja tidak cukup. Ia mendesak pemerintah untuk melakukan tindakan radikal:
- Gambar Ulang dan Rekonstruksi: Membangun kembali jalan dengan trase baru untuk mengurangi tingkat kecuraman yang ekstrem.
- Penutupan Total: Jika rekayasa teknis tidak memungkinkan, penutupan jalur secara permanen dianggap sebagai pilihan terakhir yang paling rasional demi menghindari jatuhnya korban jiwa lebih lanjut.
"Mulai dulu kecelakaan dianggap luar biasa sampai sekarang dianggap biasa. Ini harus segera diatasi. Kalau tidak bisa (diperbaiki), lebih baik ditutup saja," diakhiri dengan nada pasrah.
Sumber:









