Survei Trend Parenting, Mayoritas Masyarakat Indonesia Masih Ingin Punya Anak
Ilustrasi mempraktikkan edukasi parenting di rumah--pinterest
MALANG, DISWAYMALANG.ID-- Isu penurunan angka kelahiran dan tren childfree ramai dibicarakan di berbagai belahan dunia. Namun, masyarakat Indonesia, khususnya dari Generasi X, Milenial, hingga Gen Z, masih menempatkan anak sebagai bagian penting dalam kehidupan berkeluarga.
Survei dari Jakpat yang dikutip dari GoodStats dengan tajuk Parenting Trends in Indonesia yang melibatkan 983 responden menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia masih memiliki keinginan kuat untuk memiliki anak.
Sekitar 38 persen responden ingin langsung punya anak setelah menikah, sementara sebagian lainnya memilih berdiskusi terlebih dahulu dengan pasangan atau menundanya.
Namun, keinginan tersebut dibarengi dengan kesadaran bahwa memiliki anak membutuhkan kesiapan menyeluruh, bukan hanya secara emosional, tetapi juga finansial dan mental.
Bahkan, survei menunjukkan bahwa persiapan finansial menjadi hal yang paling diprioritaskan, baik oleh pria maupun wanita.
Selain itu, perempuan cenderung lebih memperhatikan aspek kesehatan fisik dan mental sebagai bagian dari kesiapan menjadi orang tua.
Di era digital seperti sekarang, media sosial juga turut memengaruhi cara pandang masyarakat terhadap pola asuh.
Sebanyak 64 persen responden mengaku menjadikan media sosial sebagai sumber informasi seputar parenting.
Akun milik tenaga profesional seperti dokter dan psikolog, serta situs-situs khusus pengasuhan anak, dinilai lebih kredibel dibandingkan konten dari selebriti.
Fakta ini menunjukkan bahwa generasi masa kini semakin sadar bahwa menjadi orang tua tidak hanya soal melahirkan anak, tapi juga soal kesiapan dalam menghadapi dinamika pengasuhan.
Karena itu, sebelum memutuskan untuk punya anak, penting bagi setiap pasangan untuk mempersiapkan diri secara matang, demi tumbuh kembang anak yang optimal dan keluarga yang harmonis.
Tantangan Sosial yang Kompleks
Salah satu kekhawatiran utama orang tua adalah risiko sosial yang mungkin dihadapi anak remaja.
Mulai dari kekhawatiran terhadap kurangnya sopan santun, menjadi korban atau pelaku perundungan, hingga terlibat perkelahian, menunjukkan betapa pentingnya kesiapan mental dan pendekatan komunikasi yang tepat dari orang tua.
Tak heran jika lebih dari 70 persen orang tua menjadikan pendidikan formal sebagai cara untuk memperkuat keterampilan sosial dan membangun lingkungan yang mendukung.
Ancaman Gaya Hidup Negatif
Sumber: jakpat
