1 tahun disway

Siap-Siap Slow Living selama Ramadan, Fokus Ibadah dan Kesehatan Mental

Siap-Siap Slow Living selama Ramadan, Fokus Ibadah dan Kesehatan Mental

Gaya hidup slow living dengan fokus ibadah dan kesehatan mental menjadi pilihan yang tepat saat Ramdan. -Getty images--

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, konsep slow living jadi pilihan tepat selama Ramadan. Slow living merupakan cara untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas spiritual, kesehatan fisik, dan ketenangan mental.

Tren itu semakin relevan, terutama bagi masyarakat perkotaan yang sehari-hari terbiasa dengan tekanan pekerjaan, paparan digital berlebih, serta jadwal yang padat. Ramadan menghadirkan kesempatan alami untuk berhenti sejenak. Menata ulang prioritas. Lalu kembali fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna.

BACA JUGA:Bupati Malang Tinjau Dapur Umum Harlah 1 Abad NU, Siapkan 30 Ribu Porsi untuk Jemaah

Memaknai Slow Living dalam Konteks Ramadan

Slow living adalah gaya hidup yang menekankan kesadaran penuh dalam menjalani aktivitas, mengurangi distraksi, serta memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat.

Selama Ramadan, nilai itu selaras dengan tujuan puasa. Bukan sekadar menahan lapar dan haus. Tetapi untuk melatih kesabaran, pengendalian diri, dan refleksi spiritual.

Dengan memperlambat ritme harian, seseorang dapat lebih khusyuk menjalankan ibadah. Seperti salat, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak doa.

BACA JUGA:100 Ribu Peserta Lebih Telah Mendaftar Mujahadah Kubro 1 Abad NU di Gajayana Malang

Waktu yang biasanya habis untuk aktivitas terburu-buru dapat dialihkan menjadi momen kontemplasi. Mendekatkan diri dengan Tuhan.

Dampak Positif bagi Kesehatan Mental

Penerapan slow living selama Ramadhan juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental. Hal itu dapat mengurangi tekanan jadwal, membatasi konsumsi media sosial, dan memperbanyak waktu hening. Slow living mampu membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.

Pola tidur harus lebih teratur antara sahur, ibadah malam, dan istirahat yang cukup. Itu dapat membantu stabilitas emosi.

BACA JUGA:Indonesia Jadi Negara Pertama yang Beli Properti di Mekah-Madinah via Proyek Kampung Haji

Lakukan aktivitas sederhana. Seperti berjalan santai menjelang berbuka atau menikmati waktu bersama keluarga. Tanpa gangguan gawai. Semua itu menjadi bagian penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis.

Kondisi mental yang lebih tenang turut mendukung kualitas ibadah. Ketika pikiran tidak dipenuhi beban berlebih, fokus spiritual menjadi lebih mendalam dan bermakna.

Menjaga Kesehatan Fisik Secara Seimbang

Slow living bukan berarti pasif. Melainkan menjalani aktivitas secara sadar dan seimbang. Selama Ramadhan, pola makan teratur saat sahur dan berbuka, konsumsi gizi seimbang, serta hidrasi yang cukup dapat menjadi kunci menjaga energi tubuh.

Sumber: harian.disway.id