BMKG: 18 Perairan di Jatim Gelombang Tinggi hingga 2 Januari, Khofifah Minta Wisatawan Lebih Waspada
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Bersama Wagub Emil Elestianto Dardak di Sidang Paripurna Senin 29 Desember 2025-Edi Susilo Disway ---
SURABAYA, DISWAYMALANG.ID–Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan wisatawan yang berlibur ke kawasan pantai dan perairan selama musim Natal dan Tahun Baru (Nataru) agar meningkatkan kewaspadaan. Peringatan tersebut disampaikan menyusul potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi yang diperkirakan mendominasi akhir 2025 hingga awal 2026.
”Intensitas hujan di Desember ini baru 20 persen. Namun di Januari mengalami puncaknya, 58 persen,” kata Khofifah usai sidang paripurna di Gedung DPRD Jatim, Senin petang, 29 Desember 2025.
Untuk itu, Khofifah meminta bagi warga Jatim yang ingin berlibur ke wisata pantai dan perairan diminta untuk waspada. Dia mengingatkan agar masyarakat selalu mengecek kondisi cuaca di lokasi wisata yang dituju sebelum berangkat.
Khofifah menekankan pentingnya memantau informasi resmi, terutama dari BMKG, termasuk waktu terjadinya gelombang tinggi. ”Ini penting untuk keselamatan dan keamanan bersama,” katanya.
BMKG Juanda sendiri telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah pesisir Jawa Timur. Prakiraan tersebut berlaku mulai Selasa, 30 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026.
Sebanyak 18 kawasan perairan di Jawa Timur diprediksi mengalami gelombang tinggi selama empat hari ke depan.
BACA JUGA:Bibit Siklon 93S Picu Cuaca Ekstrem, BMKG: Waspada Banjir dan Longsor di Jawa, Bali, hingga Papua
Gelombang hingga 2,5 Meter di Perairan Selatan Jawa
Wilayah tersebut meliputi Perairan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi. BMKG memprakirakan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter hingga 2,5 meter.
Tingginya gelombang laut itu dipicu oleh keberadaan Siklon Haley di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara, yang memunculkan awan hujan serta angin kencang di sekitar perairan Jawa Timur.
Khofifah juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sejak 5 Desember 2025 sebagai langkah mitigasi. ”Setiap hari, kami lakukan sampai saat ini. Dua kali sehari,” katanya.
BACA JUGA:Hadapi Cuaca Ekstrem Nataru, Polresta Malang Kota Siapkan Posko Banjir Terpadu di Titik Rawan
Modifikasi cuaca tersebut dilakukan dengan penaburan garam dan kapur di sejumlah wilayah Jawa Timur. Untuk wilayah laut, penaburan dilakukan menggunakan garam melalui pesawat, sedangkan di wilayah darat menggunakan kapur.
”Langkah ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem,” tandas Khofifah.
Sumber: harian.disway.id
