Penurunan harga dan ekspor teh memberikan efek domino bagi petani. Sebagian besar petani teh skala kecil kini menghadapi kesulitan biaya perawatan kebun, penurunan produktivitas tanaman, serta ketidakpastian pasar.
Teh yang dulunya menjadi komoditas andalan ekspor kini lebih banyak dipasarkan untuk konsumsi lokal dengan margin keuntungan yang rendah.
Beberapa pabrik pengolahan teh bahkan terpaksa menutup lini produksinya karena kekurangan bahan baku.
Menuju 2045: Rencana Kebangkitan Teh Nasional
Meski kondisi saat ini terlihat suram, pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis jangka panjang.
Melalui rencana besar menuju Indonesia Emas 2045, sektor perkebunan teh ditargetkan memiliki luas 123 ribu hektare dengan fokus pada rehabilitasi lahan terbengkalai dan pengembangan varietas unggul berdaya saing ekspor.
Selain itu, pemerintah berupaya mengadopsi standar kualitas internasional agar teh Indonesia mampu menembus kembali pasar premium dunia.
Target produktivitas pun dipatok pada 2.500 kilogram teh kering per hektare per tahun, melalui penerapan teknologi pertanian modern, sertifikasi mutu, dan dukungan kelembagaan bagi petani teh kecil.
Harapan Baru di Cangkir Lama
Teh Indonesia memang tengah kehilangan gaungnya, tetapi bukan berarti tak ada harapan. Di balik tantangan ini, muncul gerakan baru dari komunitas muda dan wirausaha lokal yang mencoba menghidupkan kembali identitas teh Indonesia melalui produk teh artisan, wisata kebun teh, hingga ekspor niche ke pasar Timur Tengah dan Eropa.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan petani, Indonesia berpeluang mengembalikan kejayaan teh sebagai ikon agribisnis nasional bukan sekadar nostalgia, tapi simbol kebangkitan ekonomi hijau yang berkelanjutan.