Institut Mosintuwu bukan sekadar lembaga, tapi gerakan budaya damai. Melalui sekolah perempuan yang ia dirikan, Lian membekali ibu-ibu dengan pengetahuan HAM, politik, dan perdamaian. Ia percaya: kalau perempuan bisa berdamai, maka anak-anak mereka juga akan tumbuh dalam damai. Lewat pendekatan ini, Lian telah menyentuh ratusan keluarga lintas keyakinan dan membantu mereka mengikis rasa curiga yang dulu mendarah daging. Namanya memang tak setenar aktivis Ibu Kota, tapi di Poso, Lian adalah simbol harapan—bahwa dari luka bisa lahir cinta, dan dari puing-puing konflik bisa tumbuh taman perdamaian.
Peringatan Hari Perempuan Internasional untuk Perdamaian dan Perlucutan Senjata bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan kompas moral bagi masa depan dunia.
Ia menunjukkan bahwa perdamaian tak hanya bisa ditempuh dengan diplomasi keras dan senjata tajam, tetapi justru lewat empati, keterlibatan komunitas, dan keberanian perempuan untuk berdiri di barisan terdepan. Dunia tak akan benar-benar aman jika setengah penduduknya tidak diberi tempat di meja perundingan.
BACA JUGA:24 Mei Hari Kesadaran Skizofrenia Sedunia, Menembus Kabut Stigma, Menggenggam Harapan
Maka, hari ini dan seterusnya, mari kita angkat suara dan beri ruang bagi mereka yang selama ini bekerja dalam diam untuk mendamaikan dunia.