MALANG, DISWAYMALANG.ID -- World Athletics Day bukan cuma panggung apresiasi bagi para atlet lintasan dan lapangan. Tetapi juga momen reflektif bagi kita-kita yang bukan atlet untuk mengenali berbagai tantangan fisik yang menghantui atlet, khususnya atlet cabang atletik.
Satu yang sering terjadi dan sering menghentikan langkah juara adalah cedera hamstring.
Cedera ini bukan cedera biasa.
Tapi tenang—dengan ilmu pengetahuan dan latihan yang tepat, cedera hamstring bukan akhir dari segalanya.
1. Apa Itu Cedera Hamstring dan Mengapa Sering Terjadi pada Atletik
Hamstring adalah kelompok tiga otot besar di bagian belakang paha: biceps femoris, semitendinosus, dan semimembranosus. Cedera terjadi ketika otot-otot ini meregang atau robek, biasanya saat melakukan aktivitas kecepatan tinggi seperti sprint atau melompat.
Gerakan eksplosif dalam waktu singkat di cabang atletik membuat otot bekerja keras, yaitu ketika otot memanjang sambil menahan beban. Ini sangat rentan menimbulkan kerusakan mikro yang bisa berkembang jadi robekan serius jika tidak ditangani.
2. Siapa yang Rentan?
Penelitian dari American Journal of Sports Medicine (2021) menyebut bahwa atlet dengan riwayat cedera hamstring sebelumnya memiliki peluang 2,7 kali lipat lebih tinggi mengalami cedera ulang. Selain itu, kelelahan otot, fleksibilitas buruk, dan ketidakseimbangan kekuatan otot menjadi faktor utama.
Pelari dengan langkah panjang, teknik mendarat yang buruk, atau core yang lemah memiliki biomekanik yang tidak efisien, memicu stres berlebih pada hamstring.
3. Tanda-Tanda Cedera Hamstring yang Harus Diwaspadai
Cedera hamstring tidak selalu datang dalam bentuk nyeri hebat langsung. Kadang dimulai dari ketegangan, rasa tidak nyaman saat melangkah, atau tertarik ringan saat sprint.
Terdapat tiga tingkat cedera:
1.Grade 1: Sobekan mikro, nyeri ringan, tetap bisa berjalan (penyembuhan bisa dalam beberapa hari.)
2.Grade 2: Robekan sebagian, nyeri saat menekuk lutut atau meregang.