Selain nambah teman dan pengalaman, juga bisa belajar hal-hal yang tidak diajarin di sekolah. Misalnya public speaking, kerja tim, atau empati. Aktivitas relawan ini juga bisa jadi nilai plus di CV atau saat daftar beasiswa tahun depan.
7. Jaga Rutinitas Harian, Jangan Kebablasan Rebahan
Tantangan terbesar gap year adalah ritme yang longgar. Tidak ada jadwal sekolah, tidak ada guru yang nyuruh, tidak ada tugas. Tapi justru di sinilah pentingnya bikin rutinitas sendiri. Bangun pagi, mandi, kerjakan target harian, dan atur waktu istirahat.
Kebiasaan ini bakal bantu jaga disiplin dan mental tetap stabil. Plus, saat akhirnya mulai kuliah atau kerja, tidak akankaget lagi menghadapi tekanan atau jadwal padat.
8. Mulai Belajar Atur Uang Sendiri
Kalau sudah kerja dan dapat penghasilan sendiri, saatnya belajar atur duit. Jangan sampai gaji habis cuma buat jajan atau top up game. Mulai dari catat pemasukan dan pengeluaran, pakai aplikasi budget, atau bikin rekening khusus tabungan.
9. Sering-Sering Konsultasi atau Curhat ke "Mentor"
Tidak harus jalan sendirian. Kalau mulai merasa ragu, stuck, atau kehilangan arah, coba ngobrol ke orang yang dipercaya. Bisa ke guru, kakak kelas, senior, atau mentor yang paham dunia kerja dan pendidikan.
Dari mereka, pastikan dapat insight baru, motivasi, dan pandangan objektif soal langkah yang tengah diambil. Kadang, satu kalimat dari orang yang tepat bisa bikin kembali semangat menata rencana gap year.
Gap Year Adalah Perjalanan, Bukan Kemunduran!
Memilih gap year bukan berarti tertinggal. Justru, kalau dijalani dengan arah dan kesadaran, ini bisa jadi fase paling berharga dalam hidup.
Yang penting bukan soal cepat-cepatan, tapi siap atau tidaknya menghadapi hidup setelahnya.
Jadi, nikmati perjalanan gap year.
Jangan takut beda jalur, selama tahu ke mana akan melangkah!