Terlepas dari tantangan pengadaan, Perpusda Kota Batu berhasil menjelma menjadi ruang publik yang nyaman dan inklusif.
Konsepnya modern. Di lantai satu ada Pojok Jagongan Literasi yang didesain ala kafe dengan sofa empuk, ruang baca ramah anak yang seperti tempat bermain, hingga ruang disabilitas yang dilengkapi 100 judul buku braille untuk penyandang tunanetra.
Naik ke lantai dua, suasananya lebih tenang dengan ruang koleksi, ruang baca, musholla, hingga ruang baca outdoor yang menyatu dengan cafe literasi dengan bonus udara sejuk Kota Batu. Pengunjung juga dimanjakan dengan fasilitas kopi dan teh gratis dengan sistem buat sendiri, serta WiFi gratis.
BACA JUGA:Operasi Patuh Semeru 2026 di Kota Batu hingga 8 November, Polres Fokus Tekan Kecelakaan
Kenyamanan ini berbuah manis pada jumlah kunjungan. Per April 2026, jumlah kunjungan tercatat 18.619 pengunjung, naik 17,32 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
“Sepanjang 2025 kemarin, total kunjungan mencapai 47.612 pengunjung,” ujarnya.
Untuk terus mendongkrak minat baca, Disperpusip juga aktif menggelar program inovatif seperti BABEKU (MemBAca dan BErkreasi dalam KUnjungan ke perpustakaan) yang mengajak siswa datang dan berkreasi di perpustakaan. Serta SI BOLING (literasi mobil keliling) yang justru membawa mobil perpustakaan keliling ke sekolah-sekolah pelosok.
“Kunjungan ke Perpusda diharapkan dapat terus meningkat dengan berbagai kenyamanan fasilitas, sehingga minat baca masyarakat juga ikut meningkat,” pungkasnya.