Menag Ajak ASN Kemenag Bersarung dan Berpeci Sepekan Sekali, Diusulkan Hari Selasa

Minggu 25-10-2026,07:03 WIB
Reporter : Mohammad Khakim
Editor : Mohammad Khakim

Di balik tampilannya yang sederhana, sarung dan peci juga merepresentasikan kerendahan hati, kedisiplinan, kebersamaan, serta penghormatan terhadap tradisi keilmuan.

Hari Santri 2026 Mengusung Tema Santri Menguatkan Negeri

Gagasan tersebut mengemuka dalam rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Kementerian Agama mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas” untuk menegaskan peran santri dan ulama dalam sejarah perjuangan sekaligus pembangunan bangsa.

Hari Santri diperingati setiap 22 Oktober. Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad yang diserukan Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, ketika para ulama menyerukan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pada 2026, rangkaian kegiatan Hari Santri mencakup Perkemahan Pramuka Santri Nusantara, Festival Sarung dan Peci Santri, Expo Kemandirian Pesantren, serta berbagai agenda penguatan pendidikan pesantren.

Festival Sarung dan Peci Santri menjadi salah satu kegiatan yang secara khusus mengangkat busana tradisional sebagai bagian dari identitas pesantren dan budaya Indonesia.

Kemenag juga mendorong penguatan kemandirian pesantren melalui pengembangan usaha. Pesantren tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga berpotensi melahirkan pelaku usaha dan produk yang berkontribusi terhadap perekonomian masyarakat.

Tradisi Pesantren dan Sarung di Malang Raya

Semangat merawat tradisi tersebut relevan dengan kehidupan pesantren di Malang Raya. Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu memiliki banyak lembaga pendidikan Islam yang menjadikan sarung dan peci bagian dari keseharian santri.

Salah satu contohnya adalah Pondok Pesantren An-Nur II Al-Murtadlo di Bululawang, Kabupaten Malang. Pesantren ini menjadi lokasi Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI 2026 yang berlangsung pada 30 September hingga 6 Oktober.

Kegiatan tersebut mempertemukan ribuan peserta dari berbagai daerah. Agenda itu sekaligus menunjukkan bahwa pesantren dapat menjadi ruang pembinaan karakter, pendidikan, dan pengembangan kemampuan generasi muda.

Di Kota Malang, Kementerian Agama bersama pemerintah daerah juga menyiapkan rangkaian kegiatan Hari Santri yang mencakup penguatan Pesantren Ramah Anak. Upaya tersebut menegaskan bahwa tradisi pesantren perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan dan perlindungan santri.

Ajakan mengenakan sarung dan peci di lingkungan kerja dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan nilai budaya pesantren kepada masyarakat luas. Namun, pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan kebutuhan pekerjaan, kenyamanan pegawai, serta aturan berpakaian di masing-masing instansi.

Pada akhirnya, gagasan Menag tidak berhenti pada sarung dan peci sebagai pakaian. Pesan utamanya adalah menjaga tradisi sambil terus bergerak maju. Semangat tersebut sejalan dengan tema Hari Santri 2026, yakni memperkuat kontribusi santri bagi masa depan Indonesia.

Kategori :