BATU, DISWAYMALANG.ID- Studi praktik baik yang dilakukan Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (CooSAE) Kota Batu bersama Pemkot Batu ke sentra hortikultura modern di Jawa Tengah membawa sejumlah temuan penting. Model bisnis pertanian yang masif, realistis, dan mudah direplikasi menjadi hasil utama yang akan dibawa pulang untuk diterapkan di Kota Batu.
Ketua CooSAE Kota Batu Rakhmad Hardiyanto mengungkapkan, kunjungan ke rumah kaca sayuran hidroponik dan melon premium di Kota Salatiga serta Kebun Keraton di Desa Sugihan, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, membuka wawasan baru tentang tata kelola pertanian modern yang tidak melulu soal teknologi mahal.
BACA JUGA: TPG Guru Kini Langsung ke Rekening, PGRI Kota Batu: Pencairan Lebih Cepat
Hasil pertama yang paling dibahas adalah efisiensi lahan dan kepastian pasar. Di lokasi yang dikunjungi, lahan seluas 1.000 meter persegi yang dikelola dengan metode hidroponik NFT mampu berproduksi secara optimal dan sudah memiliki pasar yang jelas.
“Di sana itu 1.000 meter bisa tertanam dengan metode hidroponik NFT. Nah dari situ mereka sudah ada marketnya, pasar modern dan sebagainya, hotel. Bahkan mereka juga sudah punya produk turunannya salad dan sebagainya,” ungkapnya, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, model tersebut sangat relevan dan mudah diterapkan di Kota Batu. Bahkan dengan keunggulan agroklimat Kota Batu yang lebih baik, hasilnya diyakini bisa lebih maksimal.
BACA JUGA: Mbatu Sae FC Juara Linus Jatim 2026, Wali Kota Batu Nurochman Gelar Gala Dinner
“Yang menarik kemarin itu sangat mudah untuk diterapkan di Kota Batu dengan agroklimat Kota Batu seharusnya itu Insyaallah lebih baik,” ujarnya.
Hasil kedua adalah pentingnya standarisasi dan ekosistem bisnis yang lengkap. CooSAE menilai, keberhasilan petani di Salatiga dan Semarang bukan hanya karena menanam selada premium seperti tomat beef, tomat cherry, dan green romaine lettuce, tetapi karena adanya standarisasi yang jelas.
"Yang menarik adalah standarisasi, lagi-lagi tentang standarisasi. Di saya sendiri sudah ada PSAT untuk di Geneta sudah ada GAP untuk standarisasi bagi petani," jelas Rakhmad.
BACA JUGA: Permintaan Bunga Potong Kota Batu Naik 70 Persen usai Suro, Bali Jadi Pasar Terbesar
Selain itu, lanjut Rakhmad mereka telah memiliki model bisnis kerakyatan yang masif, di mana terdapat agregator, petani, pasar, hingga investor yang saling terhubung dalam satu rantai pasok.
"Yang menarik mereka ada agregatornya, ada petaninya, ada marketnya, ada investornya. Model bisnisnya yang kita pelajari. Ke sana tidak hanya sekedar melihat selada tapi model bisnis kerakyatan yang mereka bangun itu masif," bebernya.
Rakhmad menyebutkan, hasil ketiga adalah tata kelola rantai pasok yang tertata. Dalam radius 30-40 kilometer atau jangkauan 1-2 jam, mereka mampu mengelola packing house tersentral yang memisahkan antara buah dan sayur, serta dilengkapi armada mobil pendingin untuk menjaga kualitas produk.
BACA JUGA: Gemilang RA 2026 di Kota Batu, 24 Lembaga Unjuk Kreativitas Guru dan Anak