Menurut Gus Baha, inti kisah itu menunjukkan bahwa maksiat manusia tidak mengurangi kekuasaan Allah.
"Wong Njenengan tetap Tuhan meskipun mereka maksiat dan kerajaan jenengan tidak terganggu maksiat mereka (Engkau tetaplah Tuhan meskipun mereka maksiat dan kerajaan Engkau tidak terganggu maksiat mereka, red),” Gus Baha meneruskan kata-kata sang Wali tadi dalam doanya.
Dalam kisah itu, Gus Baha mengatakan Nabi Musa sampai marah dan hendak memukul sang Wali yang dinilainya tidak adab kepada Allah. Namun Allah mengingatkan Musa bahwa Dia menyukai orang itu karena bisa membuat-Nya tertawa.
Karena itu, Gus Baha mengajak jamaah membangun hubungan dengan Allah yang nyaman dan akrab.
“Maksud kulo Sampeyan kan ra bakat khusyuk terus wiridan kan gak bakat. Anut kulo maksude penting hubungan karo Pangeran sing nyaman, sing asik, sing pokoke enak lah (Maksud saya, Anda kan tidak bakat khusyuk terus berzikir kan tidak bakat. Iku saya, maksudnya yang penting hubungan dengan Allah yang nyaman, yang asyi, yang pokoknya enaklah, red).”
Gus Baha kemudian mengingatkan bahwa Allah tidak menyukai doa yang berlebihan. “"innahū lā yuhibbul mu‘tadīn" (Artinya: Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas, red).
Gus Baha juga mengingatkan sabda Nabi ketika para sahabat berdoa terlalu keras: “Lā tad‘ūna ashamma wa lā ghāiban, innamā tad‘ūna samī‘an bashīran.” Kalian tidak menyeru Tuhan yang tuli dan tidak hadir. Kalian menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat.
Bagi Gus Baha, keyakinan seperti inilah yang membuat hubungan seorang hamba dengan Allah terasa nyaman. Doa tetap dilakukan. Tetapi tidak perlu dibangun dengan rasa takut bahwa Allah tidak mendengar jika manusia tidak berteriak.(bersambung)