MALANG, DISWAYMALANG.ID--Setelah menikmati panorama Lautan Pasir Bromo, perjalanan kembali menuju Kota Malang melalui jalur Ngadas dan Tumpang menjadi pilihan tercepat bagi wisatawan. Rute ini memang terkenal lebih singkat dibandingkan jalur lain. Tetapi memiliki karakter jalan yang didominasi turunan panjang sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra, terutama bagi pengendara motor matic.
Sepanjang perjalanan, pemandangan alam menjadi daya tarik utama. Hamparan padang savana, pegunungan hijau, hingga lembah yang membentang membuat perjalanan terasa dramatis. Begitu keluar dari kawasan lautan pasir, wisatawan langsung disambut jalan aspal yang berkelok dengan panorama khas pegunungan Bromo Tengger Semeru.
Meski menawarkan pemandangan memukau, pengendara tetap harus memperhatikan kondisi kendaraan. Jalur ini dikenal memiliki turunan panjang yang berpotensi membuat sistem pengereman cepat panas apabila digunakan terus-menerus.
Tingkat Kemiringan Jalur Bromo Berbeda-beda
Dalam perjalanan ini, jalur dari Lautan Pasir menuju Pos Jemplang atau Ngadas memiliki kemiringan sekitar 45 derajat. Jalur tersebut cukup panjang sehingga membutuhkan teknik berkendara yang tepat.
Sebagai perbandingan, jalur Wonokitri melalui Pasuruan memiliki kemiringan sekitar 49 derajat sehingga terasa lebih curam. Sementara jalur Sukapura, Probolinggo menjadi alternatif paling ramah bagi pengendara karena tingkat kemiringannya hanya sekitar 23 derajat dengan panjang tanjakan yang relatif lebih pendek.
Naik sepeda motor dari Bromo ke Malang lewat Ngadas lebih cepat. --youtube nugroho febianto--
Saat memasuki kawasan Ngadas menuju Tumpang, kondisi jalan sebenarnya tidak terlalu ekstrem. Namun, karena hampir seluruh lintasan berupa turunan panjang, beban kerja rem menjadi jauh lebih berat dibandingkan saat melewati tanjakan.
Banyak Shelter Pendingin Rem di Sepanjang Jalan
Salah satu hal yang menarik perhatian di jalur Ngadas adalah tersedianya beberapa shelter untuk mendinginkan rem kendaraan. Fasilitas ini memang disiapkan mengingat cukup banyak kendaraan mengalami rem blong akibat penggunaan rem secara terus-menerus saat menuruni lereng.
Dalam perjalanan tersebut, cakram motor bahkan terasa sangat panas ketika disentuh setelah melewati turunan panjang. Beristirahat sekitar lima menit terbukti cukup untuk menurunkan suhu rem sebelum perjalanan dilanjutkan.
Selain shelter, di beberapa titik juga tersedia jaring pengaman dari ban bekas dan karung sebagai antisipasi apabila ada kendaraan yang kehilangan fungsi pengereman. Tidak sedikit pula papan peringatan yang mengingatkan pengendara agar menghindari penggunaan rem secara terus-menerus.
Karena itu, pengendara motor matic disarankan memanfaatkan jalan yang mulai datar untuk mengistirahatkan rem dan tidak terus menekan tuas pengereman sepanjang turunan.
Kondisi Jalan Mulai Aman Setelah Poncokusumo
Memasuki kawasan Poncokusumo, karakter jalan berubah menjadi lebih landai. Suhu udara juga mulai terasa lebih hangat seiring penurunan ketinggian dari lebih dari 2.300 meter di atas permukaan laut menuju sekitar 1.200 mdpl.
Di kawasan ini sudah banyak berdiri homestay, kafe, rumah makan, hingga rest area yang dapat dimanfaatkan wisatawan untuk beristirahat. Setelah melewati area dengan tumpukan karung pengaman, jalur menuju Kota Malang relatif aman dan tidak lagi didominasi turunan ekstrem.
Naik sepeda motor matic dari Bromo ke Malang lewat Ngadas. --youtube nugroho febianto--
Sebelum mengembalikan motor sewaan, perjalanan sempat diselingi makan siang dengan menu rawon khas Malang seharga sekitar Rp32 ribu, termasuk nasi, minuman hangat, dan lauk pendamping.
Estimasi Budget Liburan ke Bromo dari Jakarta
Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi Bromo secara mandiri dari Jakarta, estimasi anggaran yang perlu disiapkan berkisar Rp1,5 juta per orang.
Perinciannya meliputi biaya sewa motor sekitar Rp170 ribu, tiket masuk kawasan Bromo sekitar Rp60 ribu, penginapan minimal Rp200 ribu, serta kebutuhan bensin sekitar Rp50 ribu. Total kebutuhan selama berada di kawasan Bromo berkisar Rp500 ribu di luar konsumsi tambahan.
Sementara itu, tiket bus pulang-pergi Jakarta–Malang diperkirakan sekitar Rp800 ribu. Dengan demikian, menyiapkan dana sekitar Rp1,5 juta menjadi pilihan paling aman agar perjalanan tetap nyaman tanpa khawatir kekurangan biaya.
Bagi pengendara motor matic, jalur Ngadas menuju Malang sebenarnya cukup aman dilalui selama kondisi kendaraan prima dan teknik pengereman dilakukan dengan benar. Memanfaatkan shelter pendingin rem, menghindari penggunaan rem secara terus-menerus, serta beristirahat ketika diperlukan menjadi kunci agar perjalanan pulang dari Bromo tetap aman dan menyenangkan.