Gus Baha: Berhenti Mengejar Dunia, Biarkan Dunia Mengejarmu

Jumat 03-07-2026,05:35 WIB
Reporter : Panca Rachmad Pamungkas
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID—Dalam sebuah pengajian kitab kuning yang dihadiri ribuan santri dan jemaah, ulama kharismatik asal Rembang, Jateng, KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), kembali memberikan nasihat mendalam tentang cara menyikapi kehidupan. Kali ini, Gus Baha menyoroti fenomena masyarakat modern yang kerap terjebak dalam ambisi tanpa batas untuk mengejar materi.

​Dengan gaya penyampaiannya yang khas —santai, diselingi humor cerdas, namun sarat akan dalil-dalil fikih dan tasawuf— Gus Baha mengajak jemaah untuk mengubah pola pikir dalam memandang rezeki. Dia menegaskan sebuah konsep spiritual yang fundamental: "Berhentilah mengejar dunia, maka dunia yang akan mengejarmu."

BACA JUGA:Rahasia Langit: Gus Baha Ungkap 3 Jenis Sedekah yang Langsung Dibayar Kontan oleh Allah Swt

​Filosofi Bayangan: Semakin Dikejar, Semakin Menjauh

​Gus Baha mengawali ceramahnya dengan memberikan sebuah tamsil atau perumpamaan yang sangat sederhana namun menohok tentang hakikat dunia. Menurut dia, dunia itu ibarat bayangan manusia sendiri.

​"Dunia itu seperti bayanganmu. Kalau kamu berjalan mengejar bayangan, sampai Hari Kiamat pun kamu tidak akan pernah bisa menangkapnya. Tapi coba kamu balik badan dan berjalan melangkah menuju cahaya, maka bayangan itu tanpa kamu minta akan berjalan mengikutimu dari belakang," ujar Gus Baha yang disambut senyum dan anggukan takjub para jemaah.

​Gus Baha menjelaskan bahwa kesalahan terbesar manusia saat ini adalah menjadikan dunia sebagai ghayah (tujuan utama), bukan sebagai wasilah (sarana/perantara). Ketika dunia dijadikan tujuan, hati seseorang akan senantiasa merasa kurang, cemas, dan diperbudak oleh ambisinya sendiri.

Sebaliknya, jika fokus utama seorang hamba adalah mencari rida Allah Swt, maka Allah yang akan menggerakkan dunia untuk melayaninya.

BACA JUGA:Gus Baha: Tanda Utama Allah Menjaga Langkahmu Adalah ketika Terasa Sangat Sulit Bermaksiat

​Mengembalikan Kehormatan Manusia di Hadapan Materi

​Lebih lanjut, murid kesayangan almarhum Mbah Moen (KH Maimoen Zubair) ini mengingatkan agar manusia tidak menurunkan derajatnya di hadapan makhluk. Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, yang artinya manusia adalah tuan. Sedangkan dunia adalah pelayannya. 

  • ​Diperbudak Dunia: Menghabiskan waktu, tenaga, bahkan menggadaikan iman hanya demi menumpuk harta yang belum tentu dinikmati.
  • ​Menguasai Dunia: Menjadikan harta di tangan hanya sebagai alat ibadah, sementara hatinya tetap bergantung penuh kepada Allah SWT.

​"Kamu itu manusia, makhluk mulia. Jangan mau didikte dan diperbudak oleh benda mati seperti uang atau jabatan. Kalau kamu ridha kepada Allah, Allah akan buat dunia itu tunduk dan mengejarmu. Rezeki itu sudah ada jaminannya, yang belum ada jaminannya itu kan keselamatan iman kita di akhirat nanti," tegas Gus Baha.

BACA JUGA:Marak Konten Tanda Hari Akhir di Medsos Digambarkan Menakutkan, Gus Baha: Islam Itu Dinikmati, Bukan Ditakuti

​Rumus Bahagia: Syukur dan Qana'ah

​Gus Baha juga mengkritik standar kebahagiaan orang modern yang dinilai terlalu rumit dan mahal. Menurutnya, untuk menjadi bahagia, manusia hanya perlu mengaktifkan rasa syukur dan sifat qana'ah (merasa cukup).

​Beliau mencontohkan bagaimana para sahabat Nabi dan ulama terdengar sangat bahagia hanya dengan hal-hal sederhana. Bisa makan sesuap nasi yang halal, bisa sujud dengan tenang, dan melihat keluarga sehat adalah kemewahan yang luar biasa jika dilihat dengan kacamata iman.

​Ketika seseorang sudah berada pada maqam (tingkatan) bersyukur seperti ini, ia tidak lagi ambisius mengejar kemewahan duniawi. Uniknya, di titik inilah keberkahan hidup justru datang berlimpah. Dunia datang menghampiri dalam bentuk ketenangan jiwa, kesehatan, dan kecukupan materi yang berkah, tanpa perlu mengorbankan waktu ibadah.

BACA JUGA:Nasihat Sejuk Gus Baha: Pegang Teguh 5 Perkara Ini agar Hidup Selalu Tenang dan Berkah

​Pada akhir ceramahnya, Gus Baha berpesan agar jemaah tetap bekerja dan berikhtiar mencari nafkah, namun dengan catatan tidak boleh meletakkan dunia di dalam hati. Bekerja dinilai sebagai bentuk ibadah dan menjalankan syariat, bukan karena ketakutan tidak bisa makan.

​Dengan berhenti mengejar dunia secara membabi buta, seseorang justru akan mendapatkan kemerdekaan hidup yang sejati. Ketika hati sudah merdeka dari ketergantungan makhluk, saat itulah janji Allah terjadi: dunia akan datang bersujud dan mengejar si hamba, sementara akhiratnya pun tetap terjaga.

Tags :
Kategori :

Terkait