BATU, DISWAYMALANG.ID--Bagi masyarakat Jawa, Bersih Desa bukanlah sekedar rutinitas tahunan, namun sebuah ruang sakral untuk menghidupkan kembali tali spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di Kelurahan Temas, Kota Batu, perayaan Bersih Desa yang ke-172 diawali dengan sebuah prosesi penting yang menjadi fondasi seluruh rangkaian acara, yaitu berdirinya Tarub Agung (atau Terop Agung).
Ritual ini dimulai tepat pada hari Senin Paing, tanggal 29 Juni, di pendopo kelurahan Temas Sebagai tanda dimulainya gotong-royong warga dalam menyambut hari yang disakralkan.
Hitungan Neptu dan Filosofi Hari Candi
Pemilihan hari Senin Pahing dalam memulai berdirinya Tarub Agung tidak dilakukan secara sembarangan. Menurut penuturan Mbah Haji Faqih selaku ketua adat Kelurahan Temas, Senin Pahing memiliki jumlah neptu (hitungan Jawa) bernilai 13.
Dalam kosmologi Jawa, angka 13 ini melambangkan "Hari Candi". Mbah Haji Faqih menjelaskan makna di balik pemilihan hari tersebut:
BACA JUGA: Rayakan Hari Jadi ke-172, Kelurahan Temas Gelar Selamatan Desa 'Hormati Bumi Kejarlah Langit'
"Lah dinten 13 menika... niku mengambil dari... jumlah yang duduknya di... di candi. Kalau orang Jawa bilang 13 itu hari... hari candi. Sopo arepe nggubrakno candi kan enggak ada nggih? Nah, ngoten. Dadi biar kokoh, lebih kuat," beber Mbah Haji Faqih.
Dengan landasan filosofi tersebut, diharapkan seluruh tatanan pemerintahan kelurahan—mulai kepala kelurahan hingga jajaran stafnya— bisa berdiri tegak, kompak, dan rukun. “Utamanya, kepala kelurahan bisa rukun, runtut sama stafnya. Kompak, rukun, ngatur… apa itu, mau masyarakat ben luwih ayem,” tambah Mbah Haji Faqih.
BACA JUGA: Wujud Syukur Hasil Bumi Melimpah, Desa Bumiaji Gelar Tradisi Bersih Desa dengan Semangat Guyub Rukun
Makna Spiritual Tarub Agung dan Janur Kuning
Secara bahasa, Tarub Agung menyimpan kedalaman makna spiritual yang kuat. Kata tarub didekatkan dengan istilah ta'aruf dalam bahasa Arab, yang dalam konteks adat ini dimaknai sebagai tindakan kepatuhan dan manembah kepada Yang Maha Kuasa.
BACA JUGA: Lestarikan Jati Diri lewat Tradisi, Bersih Desa Bumiaji Angkat Potensi Ekonomi dan Kuliner Lawas
Mbah Haji Faqih memaparkan keselarasan makna ini. "Coro Arabe ta'aruf, lah coro Jowone Terop Agung, ngoten nggih? Kudu eling nang sing... Maha Besar, yaiku Allah Swt yang menciptakan bumi dan langit, ngoten loh, nggih." kata Faqih
Simbol penyembahan ini secara fisik diwujudkan melalui empat buah tiang penyangga utama (cagak sekawan) Tarub Agung sebagai pengingat akan keagungan Sang Pencipta. Tak hanya tiang, kelengkapan atau ubarampe yang dipasang pun sarat akan sanepan (kiasan), salah satunya adalah Janur.
Dia menjelaskan bahwa kata janur berasal dari kalimat Jan Allah Nur Muhammad. “Jadi selalu bergandengan, Muhammad… Allah dan Muhammad selalu bergandengan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Memetri di Petren Situs Joko Lola Jadi Penanda Dimulainya Bersih Desa Kelurahan Polowijen 2026
Secara keseluruhan, ada sekitar 27 macam kelengkapan adat yang dipasang secara bertahap hingga hari Minggu Pon (tanggal 5 Juli). Termasuk di antaranya adalah cikal (bibit kelapa) dan kelapa gading. Cikal ini dipasang dengan harapan agar generasi tua dapat memberikan warisan nilai yang bermanfaat bagi anak cucu di masa depan.
“Jadi… kita generasi kita ini sampai… apa itu, sampai generasi yang akan datang biar… yang tua-tua ini bisa ada gunanya untuk diteruskan sama anak turun kita. Ya, itu cikal bakal,” urai Mbah Haji Faqih.
Ritual Doa Awal dan Jenang Sengkolo
Prosesi pendirian Tarub Agung ini secara resmi didahului dengan doa bersama yang dimulai tepat pada pukul 08.00 WIB. Sebagai sarana penghantar doa, warga menyajikan nasi tumpeng golong yang jumlahnya disesuaikan dengan hitungan neptu hari, yaitu 13 buah, serta Jenang Sengkolo.
Sajian tradisional ini berfungsi sebagai simbol permohonan spiritual demi keselamatan warga. Mbah Haji Faqih menjelaskan fungsinya:
Melalui ritual doa awal ini, warga memohon kesehatan (seger waras) serta kelancaran dan keberkahan dalam mencari rezeki demi mencukupi kebutuhan keluarga masing-masing.
Puncak Bersih Desa: Maeso Suro dan Wayang Cerita
Pendirian Tarub Agung ini merupakan awal dari rangkaian panjang menuju hari-H, yang jatuh pada hari Selasa Kliwon (dinten Anggoro Kasih) di minggu berikutnya. Hari Selasa Kliwon dipilih karena berdasarkan sejarah para sesepuh terdahulu, hari itulah yang menjadi waktu pertama kali dibukanya babat alas Desa Temas.
Pada acara puncak nanti, warga akan mempersembahkan sesajen tulak balak berupa penyembelihan Maeso Suro (kerbau Suro). Mbah Haji Faqih menceritakan sejarah lisan yang melatarbelakangi tradisi ini.
"Sebelum ada penyembelihan Maeso Suro itu, setiap babat alas Desa Temas itu pakai korban manusia, ngoten. Lah setelah ditirakati, coro sak niki, lek coro biyen tiyang semedi ya opo enake... ben negara iki ora terus nggorbaneri menungso wae, lah baru diberi... wawasan, terus diperlihatkan... sebaliknya itu harus... sebaliknya diperlihatkan... diperlihatkan itu pakai kerbo. Namanya Maeso Suro itu.”
Tradisi menyembelih kerbau ini terus dilestarikan hingga sekarang sebagai sarana memohon perlindungan dari wabah penyakit besar. Sebagai pemungkas rangkaian Bersih Desa, aspek hiburan dan tuntunan juga disajikan melalui pertunjukan Wayang Cerita.