Dalam penggunaan sehari-hari, pengguna juga menemukan adanya perbedaan antara Volta Mandala versi lama dan versi terbaru.
Model terbaru lebih banyak mengandalkan baterai lithium sebagai sumber utama energi, sedangkan versi lama masih memberikan opsi kombinasi dengan baterai SLA.
Selain itu, terdapat perbedaan pada bagian penyimpanan. Versi terbaru memiliki ruang tambahan kecil di bagian depan, sementara versi lama memiliki struktur yang lebih sederhana namun dianggap lebih kokoh pada beberapa bagian tertentu.
Perubahan ini menunjukkan adanya pengembangan desain dan fitur secara bertahap untuk menyesuaikan kebutuhan pengguna.
Kekurangan yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki sejumlah kelebihan, Volta Mandala tetap memiliki beberapa kekurangan yang menjadi catatan pengguna.
Salah satu yang paling sering disebut adalah posisi jok penumpang belakang yang kurang ideal untuk perjalanan jauh. Letaknya yang agak ke belakang membuat penumpang perlu beradaptasi agar tetap nyaman selama perjalanan.
Selain itu, material bodi yang masih didominasi plastik dianggap belum memberikan kesan premium jika dibandingkan dengan beberapa kompetitor di kelas yang lebih tinggi.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi hal yang perlu dipertimbangkan, mengingat ekosistem motor listrik di Indonesia masih dalam tahap perkembangan.
Lebih Cocok untuk Penggunaan Dalam Kota
Secara keseluruhan, Volta Mandala dinilai lebih cocok untuk kebutuhan mobilitas dalam kota dengan jarak tempuh harian yang relatif pendek.
Motor ini menawarkan kombinasi desain klasik, sistem baterai fleksibel, serta fitur dasar yang cukup untuk penggunaan sehari-hari.
Bagi pengguna pemula kendaraan listrik, Volta Mandala menjadi salah satu opsi yang mudah dipahami dan tidak memerlukan adaptasi teknis yang rumit.
Dengan karakter tersebut, Volta Mandala menegaskan posisinya sebagai motor listrik entry-level yang fokus pada fungsi utama mobilitas harian di tengah perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.(*)