BATU, DISWAYMALANG.ID--Semangat sekolah untuk semua semakin nyata di Kota Batu. Dinas Pendidikan Kota Batu mencatat sudah ada 406 anak berkebutuhan khusus yang duduk di bangku sekolah reguler pada 2026. Mereka belajar berdampingan dengan siswa umum. Mulai Kelompok Belajar (KB) sampai SMP..
Rinciannya, terdapat 47 siswa KB di 24 sekolah, 88 siswa TK di 21 sekolah. Kemudian, sebanyak 217 siswa di 22 SD dan 54 Siswa di 8 SMP.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu Alfi Nurhidayat mengatakan anak-anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas.
BACA JUGA:Dokar Wisata Alun-Alun Batu Tetap Eksis, Jadi Favorit Keluarga di Tengah Gempuran Wahana Modern
Menurutnya, pemerintah berkomitmen memberikan akses pendidikan yang setara tanpa diskriminasi bagi seluruh anak melalui pendidikan inklusif.
"Oleh karena itu sekolah tidak hanya membuka akses penerimaan, tetapi juga harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi mereka,” jelasnya, Senin (1/6/2026).
Alfi menyebutkan, saat ini ada 75 sekolah penyelenggara pendidikan inklusi di Kota Batu yang rutin mengirimkan data peserta didik berkebutuhan khusus ke Dinas Pendidikan.
BACA JUGA:Jemaah Haji Kota Batu Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Selasa Besok
Ia menambahkan, kebijakan pendidikan inklusif ini selaras dengan aturan dari pemerintah pusat. Regulasi tersebut mewajibkan setiap sekolah menyediakan kuota khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus melalui jalur afirmasi maupun inklusi.
"Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena proses verifikasi dan pendataan masih berlangsung," urainya.
Lebih lanjut, mantan Kadis PUPR Kota Batu itu menegaskan bahwa pendidikan inklusi tidak boleh berhenti hanya pada pemenuhan kuota. Sekolah harus memastikan seluruh siswa inklusi memperoleh perlindungan, pendampingan, dan kesempatan belajar yang setara.
BACA JUGA:Ngarak Banteng Empu Supo XVIII Siap Digelar di Songgoriti Kota Batu
“Yang paling penting adalah memastikan mereka tidak mengalami diskriminasi maupun perundungan. Kehadiran siswa inklusi harus dibarengi dengan ekosistem belajar yang sehat dan mendukung tumbuh kembang mereka,” tegasnya.
Selain itu, keberadaan Guru Pendamping Khusus atau GPK juga mendapat sorotan. Alfi menilai GPK punya peran krusial untuk mendampingi siswa berkebutuhan khusus beradaptasi di sekolah. Serta memastikan pembelajaran berjalan sesuai karakteristik tiap anak.
"Ketika mereka merasa diterima, perkembangan akademik maupun sosialnya akan jauh lebih baik," tambah Alfi.