MALANG, DISWAYMALANG.ID –Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Prof. Putu Mahardika Adi Saputra menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat belum terlalu mengkhawatirkan. Nilai tukar yang menyentuh kisaran Rp17.900 per USD pada 29 Mei 2026 ia nilai masih berada dalam kondisi yang relatif aman dan terkendali.
Menurut Prof. Putu, fluktuasi nilai tukar mata uang negara berkembang terhadap dolar AS merupakan kondisi yang umum terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Ia menilai posisi rupiah masih berada dalam rentang yang dapat dikelola meskipun tekanan ekonomi dunia belum sepenuhnya mereda.
“Kalau ditanya apakah saya khawatir, saya termasuk yang belum terlalu khawatir. Dalam konteks global yang hari ini belum normal, posisi rupiah masih berada dalam rentang yang relatif aman dan terkontrol,” ujarnya, dikutip dari prasetya.ub.ac.id, Sabtu (30/5).
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kondisi ekonomi global yang belum stabil, hingga tingginya minat investor terhadap aset berbasis dolar AS.
Menurutnya, dolar AS masih menjadi instrumen investasi yang menarik karena menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif. Situasi tersebut menyebabkan aliran modal global lebih banyak bergerak menuju aset-aset dolar dibandingkan negara berkembang.
“Ketika mata uang kuat seperti USD menawarkan return yang menarik, maka investor global tentu akan lebih memilih aset tersebut. Ini menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah,” jelasnya.
Selain faktor global, Prof. Putu juga menyoroti tantangan domestik yang masih dihadapi Indonesia, terutama tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang tertentu. Kondisi tersebut dinilai memicu imported inflation atau inflasi akibat impor yang berdampak pada meningkatnya biaya produksi dan menurunnya daya saing industri nasional.
BACA JUGA:FEB UB Tingkatkan Kepedulian Lingkungan melalui Pemilahan Sampah Botol Bekas
“Produk-produk kita masih banyak bergantung pada impor bahan baku dan bahan mentah. Ini menjadi persoalan besar karena berdampak pada efisiensi dan daya saing produk Indonesia,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, Prof. Putu menilai langkah Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen merupakan keputusan yang tepat untuk menjaga stabilitas pasar dan mempertahankan kepercayaan investor.
Ia menyebut kebijakan suku bunga menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan kondisi makroekonomi nasional, terlebih ketika bank sentral Amerika Serikat juga mengambil kebijakan serupa.
“Bank Indonesia harus menjaga kredibilitasnya di mata investor. Investor menunggu kapan BI menaikkan suku bunga sebagai bentuk perhatian terhadap stabilitas pasar valuta asing dan makro ekonomi nasional,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga juga berpotensi memberi tekanan kepada masyarakat dan pelaku usaha, terutama UMKM yang memiliki pinjaman dengan sistem bunga mengambang (floating rate).
“Tingkat suku bunga yang lebih tinggi akan memukul kemampuan cicilan masyarakat dan pelaku usaha. Karena itu pemerintah tidak bisa hanya menyerahkan semuanya kepada mekanisme pasar,” jelasnya.
Karena itu, Prof. Putu menilai pemerintah perlu hadir melalui berbagai kebijakan intervensi dan perlindungan sosial, khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah dan pelaku usaha kecil. Ia juga mendorong pemberian insentif kepada sektor-sektor yang mampu memproduksi barang lokal agar ketergantungan impor dapat ditekan.