UM Pilih Fokus Riset Gizi Ketimbang Kelola SPPG, Rektor: Kampus Bukan Operator

Jumat 22-05-2026,12:59 WIB
Reporter : Abdul Halim
Editor : Abdul Halim

LOWOKWARU,DISWAYMALANG.ID--Universitas Negeri Malang menegaskan peran perguruan tinggi dalam program pemenuhan gizi nasional lebih tepat difokuskan pada riset, pengawasan mutu gizi, dan edukasi pangan berbasis akademik dibanding terjun langsung sebagai pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Pernyataan tersebut disampaikan Rektor UM, Hariyono merespons harapan Badan Gizi Nasional agar setiap perguruan tinggi dapat mengelola minimal satu SPPG dalam mendukung program makan bergizi gratis nasional.

Menurut Hariyono, pengelolaan SPPG membutuhkan sumber daya profesional dan kemampuan teknis yang spesifik sehingga kampus belum mempertimbangkan untuk masuk ke ranah operasional tersebut.

BACA JUGA:POLINEMA Rombak Kurikulum demi Sokong Hilirisasi Industri dan Green Jobs

“Pertama, kami belum berpikir ke arah sana karena untuk mengurus SPPG dibutuhkan tim yang profesional,” ujarnya, Jumat (22/5).

Ia menilai perguruan tinggi seharusnya tetap berfokus pada fungsi akademik dan pengembangan ilmu pengetahuan, sementara pengelolaan layanan pemenuhan gizi dalam skala besar lebih tepat dilakukan pihak yang memiliki pengalaman operasional di lapangan.

“Perguruan tinggi lebih tepat memberikan dukungan dalam bentuk kajian-kajian ilmiah,” tegasnya.

Hariyono menjelaskan kontribusi kampus dalam program makan bergizi gratis dapat dilakukan melalui penguatan riset dan edukasi publik. Perguruan tinggi dinilai memiliki kapasitas untuk menguji standar higienitas makanan, merumuskan kebutuhan gizi remaja, hingga menyusun rekomendasi pemanfaatan pangan lokal berbasis kajian ilmiah.

“Kajian mengenai sajian sudah higienis atau belum, kemudian gizinya sesuai kebutuhan anak-anak remaja yang sedang tumbuh atau tidak. Sampai pada kedaulatan pangan, di daerah tertentu disarankan menggunakan sumber pangan lokal,” katanya.

Menurutnya, kampus juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terkait kedaulatan pangan dan pentingnya pemanfaatan bahan pangan lokal yang memiliki nilai gizi tinggi.

Ia mencontohkan bahan pangan seperti ubi-ubian dan ikan memiliki kandungan gizi yang kompetitif serta mampu mendukung kebutuhan protein anak dalam masa pertumbuhan.

BACA JUGA:FIA UB Bahas Transformasi Bisnis Hijau Bersama Akademisi UTM Malaysia

“Anak-anak membutuhkan protein agar pertumbuhan otak dan tubuhnya terpenuhi. Dengan begitu, kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk meminimalisasi stunting dan menciptakan generasi muda Indonesia yang lebih cerdas dapat tercapai,” ujarnya.

UM menilai kontribusi perguruan tinggi dalam program pemenuhan gizi nasional harus diarahkan pada penguatan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan, riset berkelanjutan, serta edukasi masyarakat agar program berjalan efektif dan tepat sasaran.

Tags :
Kategori :

Terkait