MALANG, DISWAYMALANG.ID—Universitas Brawijaya (UB) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus inklusif dengan mewisuda dua mahasiswa Teman Tuli pada Wisuda Periode XVIII di Gedung Samantha Krida, Minggu (10/5/2026).
Dikutip Disway Malang dari laman resmi UB, Rabu (13/5/2026), dua wisudawan tersebut yakni Nur Aziziyah Insyirah dari Program Studi D4 Desain Grafis Fakultas Vokasi dan Dani Ihwan Rizqi dari Fakultas Ilmu Administrasi Publik (FIA).
Nur Aziziyah Insyirah atau yang akrab disapa Ziyah mengaku selama menempuh pendidikan di UB dirinya belajar banyak tentang cara menyampaikan ide, kreativitas, hingga komunikasi melalui karya visual.
BACA JUGA:Buah Alpukat Ternyata Bisa Bantu Percepat Penyembuhan Luka, Dosen FKH UB Ungkap Potensinya
Baginya, UB memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berkembang sesuai kemampuan masing-masing, termasuk bagi mahasiswa difabel agar tetap dapat belajar dengan nyaman dan memperoleh pendidikan yang setara.
“Saya memilih UB karena memiliki perkembangan akses pendidikan yang lebih inklusif untuk mahasiswa difabel,” ujar Ziyah.
Tugas akhir yang mengantarkannya meraih gelar sarjana terapan adalah perancangan ilustrasi buku anak berjudul "Mari Mengenal Huruf Hijaiyah" sebagai media pembelajaran mengaji bagi anak tuli.
BACA JUGA:FIA UB Soroti Pentingnya Standardisasi Arsip Digital
Dalam proses perkuliahan, Ziyah mengaku sempat menghadapi berbagai kendala komunikasi, terutama saat memahami materi dengan cepat maupun ketika mengikuti diskusi secara langsung.
“Sebagai mahasiswa tuli, saya kadang-kadang mengalami kendala komunikasi dalam proses perkuliahan, terutama saat harus memahami materi dengan cepat atau saat diskusi langsung. Namun, dari situ saya belajar untuk mandiri dan terus berusaha. Lalu, lahirlah tugas akhir tersebut,” jelasnya.
Dani Ihwan Rizqi salah satu teman tuli--prasetya.ub.ac.id
Sementara itu, Dani Ihwan Rizqi mengungkapkan bahwa UB menjadi salah satu kampus inklusif yang telah lama ia impikan. Sejak memulai kuliah pada tahun 2021, Dani mengaku perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mudah.
“Prosesnya tentu tidak selalu mudah, karena banyak tantangan selama perkuliahan. Masa sulit saat menghadapi tugas, revisi, dan penyusunan skripsi, tetapi saya berusaha tetap semangat dan fokus sampai akhirnya bisa menyelesaikan studi di UB,” ungkap Dani.
BACA JUGA:FKH UB Sukses Selenggarakan Uji Kompetensi Nasional Calon Dokter Hewan
Sebagai mahasiswa difabel yang telah menyelesaikan pendidikan di UB, keduanya berharap kampus dapat terus mengembangkan akses pendidikan yang lebih inklusif. Mulai komunikasi yang lebih mudah diakses, pendampingan akademik, hingga peningkatan fasilitas penunjang pembelajaran bagi mahasiswa difabel lainnya.