LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID–Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Yassierli menyoroti tantangan sumber daya manusia (SDM) dan disrupsi dunia kerja akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, hingga perubahan ekonomi global dalam agenda Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus Nasional (FSLDKN) XXII di Universitas Brawijaya (UB), Kota Malang, Kamis (7/5).
Menaker hadir secara daring melalui zoom meeting dalam grand opening FSLDKN XXII yang diikuti ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia di Aula Gedung A Lantai 4 Fakultas Ilmu Administrasi UB.
Dalam sambutannya, Yassierli mengajak mahasiswa untuk menjaga semangat persatuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar dunia kerja menuju Indonesia Emas 2045.
“Kita adalah Indonesia, kita adalah Merah Putih. Mari bersama-sama bekerja di posisi masing-masing untuk membangun bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia mengakui tidak dapat hadir langsung karena agenda kementerian yang padat, namun menegaskan dukungannya terhadap pelaksanaan FSLDKN XXII dan forum konsolidasi mahasiswa nasional tersebut.
Dalam paparannya, Menaker membeberkan tantangan ketenagakerjaan Indonesia yang dinilai semakin kompleks. Saat ini jumlah penduduk bekerja mencapai sekitar 107 juta orang, dengan mayoritas tenaga kerja berada di sektor informal.
Menurutnya, hampir 60 persen pekerja Indonesia masih bergerak di sektor informal, mulai dari pekerja mandiri, pengemudi transportasi online, pekerja kreatif, hingga buruh harian.
“Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam pembangunan ketenagakerjaan nasional,” katanya.
Ia juga menyoroti kualitas pendidikan tenaga kerja nasional. Sebanyak 87 persen angkatan kerja Indonesia disebut masih berpendidikan maksimal SMA dan SMK, sedangkan lulusan perguruan tinggi hanya sekitar 13 persen.
BACA JUGA:Dari Sucuk ke SDGs: Fapet UB Hadirkan Pakar dari Turki untuk Bahas Inovasi Fermentasi Daging
Meski demikian, lulusan sarjana juga menghadapi persoalan tingginya angka pengangguran terdidik yang mencapai hampir satu juta orang.
“Mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi seharusnya menjadi SDM unggul karena jumlahnya relatif kecil dibanding total angkatan kerja nasional,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Yassierli memaparkan tiga faktor utama yang mengubah lanskap dunia kerja global, yakni perkembangan AI dan digitalisasi, transisi ekonomi hijau (green transition), serta perubahan demografi dan ekonomi dunia.
BACA JUGA:Delegasi FTUB Wakili Indonesia di Forum Hidropower Internasional China