Dalam konteks sosial, Prof. Ilfi menyebut nilai Kartini juga berkaitan dengan relasi setara dalam keluarga, pertemanan, maupun dunia kerja. Hubungan yang sehat, menurut dia, dibangun atas dasar saling menghormati, bukan dominasi.
Lebih jauh, ia mengingatkan tantangan besar di era digital saat ini adalah maraknya hoaks, disinformasi, dan bias algoritma. Karena itu, generasi muda dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis.
“Kesetaraan juga berarti memberi ruang bagi setiap orang untuk berpikir mandiri dan tidak terjebak dalam narasi menyesatkan,” jelasnya.
BACA JUGA:Warga Songgoriti Adakan Sholawat Sebagai Jalur Langit Agar Terhindar dari Marabahaya
Prof. Ilfi menilai semangat Kartini kerap direduksi hanya sebagai seremoni tahunan. Padahal, yang lebih penting adalah bagaimana nilai kesetaraan diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari.
Ia mengajak generasi muda menjadikan Hari Kartini sebagai momentum untuk memperjuangkan masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan bermartabat.
“Jika Kartini hidup hari ini, mungkin beliau hadir lewat platform digital, memimpin gerakan sosial, dan menginspirasi jutaan orang. Tetapi esensinya tetap sama, yakni memperjuangkan kemanusiaan yang adil dan beradab,” pungkasnya. (Ab)