Hindia Murka! Lagu ‘Peradaban’ Dipakai Serang Kaum Minoritas, Ini Kronologi dan Dampaknya

Sabtu 28-03-2026,13:58 WIB
Reporter : M Rozaq Wira Utama
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Lagu Peradaban milik band .Feast mendadak jadi sorotan publik setelah potongan liriknya digunakan dalam perdebatan di media sosial X (Twitter) untuk membenarkan pandangan bernuansa anti-queer. Situasi ini memicu reaksi tegas dari Baskara Putra atau yang dikenal sebagai Hindia. Dia menolak keras penggunaan karyanya untuk menyerang kelompok minoritas.

Perdebatan bermula pada Senin (23/3/2026), ketika akun X @Heartsteeler mengungkap keresahan terkait sikap sebagian komunitas kreatif yang dinilai masih menunjukkan sentimen anti-queer. Pandangan tersebut kemudian mendapat dukungan dari akun lain, termasuk @aromapetrikorr, yang menilai sikap tersebut bertentangan dengan nilai kebebasan berekspresi yang selama ini dijunjung komunitas kreatif.

BACA JUGA:MPL ID Season 17 Makin Fresh! Hadirkan Sabila Aprilia dan Aldo sebagai Talent Baru

Diskusi yang awalnya bersifat opini berkembang menjadi lebih panas ketika akun @kutukamwni ikut terlibat. Ia membawa potongan lirik dari lagu Peradaban untuk memperkuat argumennya. Lirik tersebut kemudian digunakan dalam konteks yang dinilai menyerang kelompok tertentu, sehingga memicu reaksi keras dari sejumlah pengguna lain.

Kontroversi semakin meluas saat Hindia merespons langsung perdebatan tersebut melalui akun X miliknya. Dalam pernyataan singkat namun tegas, ia meminta agar lagu-lagunya tidak digunakan untuk merendahkan atau menyerang kelompok minoritas.

BACA JUGA:'Furies Season 2' Resmi Tayang di Netflix, Aksi Brutal dan Konflik Baru Makin Panas

Sikap Hindia ini langsung memantik perdebatan lanjutan di kalangan netizen. Sebagian besar mendukung langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang musisi terhadap karyanya. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan batasan antara kebebasan interpretasi karya seni dan hak kreator dalam mengontrol penggunaannya.

Di sisi lain, polemik ini turut membuka diskusi yang lebih luas. Tidak hanya soal musik, tetapi juga menyentuh isu sensitif seperti diskriminasi, kebebasan berekspresi, hingga etika dalam menggunakan karya publik di ruang digital.

BACA JUGA:9 Serial Pendek Cocok Ditonton selama Arus Balik: Film lokal, Korea, hingga Peraih Emmy Award

Fenomena ini menunjukkan bagaimana potongan karya seni, seperti lirik lagu, dapat dengan mudah keluar dari konteks aslinya dan digunakan dalam perdebatan sosial yang lebih besar. Pada era media sosial, interpretasi publik terhadap karya memang semakin luas, namun kasus ini menjadi pengingat bahwa penggunaan tersebut tetap memiliki batas, terutama ketika menyangkut isu kemanusiaan.

Kontroversi lagu Peradaban pun kini tidak lagi sekadar soal musik, namun telah berkembang menjadi refleksi tentang relasi antara karya, kreator, dan tanggung jawab sosial di tengah dinamika digital yang terus bergerak cepat.

BACA JUGA:Langkah Besar Animasi Indonesia, 'Jumbo' Sukses Tembus dan Bertahan di Korea Selatan

Tags :
Kategori :

Terkait