Fenomena Digital Detox di kalangan Anak Muda: Tren atau Kebutuhan?

Sabtu 28-02-2026,07:19 WIB
Reporter : Nafisa Azzaro
Editor : Mohammad Khakim

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Meningkatnya intensitas penggunaan media sosial di kalangan anak muda memunculkan fenomena yang dikenal sebagai digital detox. Praktik membatasi penggunaan perangkat digital ini dinilai bukan sekadar tren gaya hidup, namun respons terhadap kelelahan mental akibat paparan layar yang terus-menerus. Hal ini terlihat dari berbagai unggahan yang mengajak pengguna mengurangi ketergantungan terhadap ponsel dan media sosial.

Dalam salah satu unggahan di TikTok, kolom komentar dipenuhi respons warganet yang mengaku merasakan dampak penggunaan ponsel berlebihan. Seorang pengguna dengan akun tari☆ menuliskan, “riil sih pas kebanyakan main hp rasanya ga enak bgt.” Komentar tersebut mendapat lebih dari seribu tanda suka, menunjukkan banyaknya pengguna yang merasakan hal serupa.

BACA JUGA:Takut Ketinggalan Zaman: 9 Dampak dan Upaya Mengatasi FOMO bagi Gen Z

Komentar lain juga mendorong praktik digital detox sebagai tantangan pribadi. “gaess ayo challenge diri sendiri buat non aktifin medsos kecuali wa dalam seminggu ajaa, menurut gue rasanya lega sii,” tulis salah satu pengguna. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebagian anak muda mulai secara sadar mencoba membatasi akses media sosial demi merasakan ketenangan.

Dari berbagai komentar tersebut, terlihat bahwa digital detox bukan hanya sekadar tren konten, melainkan respons nyata terhadap rasa lelah akibat penggunaan gawai yang berlebihan. Banyak anak muda mengakui adanya perasaan tidak nyaman, gelisah, hingga sulit lepas dari kebiasaan menggulir layar.

BACA JUGA:9 Dampak Gula Berlebih mulai Jerawat hingga Penuaan Dini! 9 Tips Membatasi Konsumsi Gula

Berikut detail mengenai fenomena digital detox:

1. Mengapa Kebutuhan? (Aspek Kesehatan Mental dan Fisik)

  • Mengatasi FOMO & Kecemasan: Penggunaan media sosial berlebihan sering memicu Fear of Missing Out (FOMO)—rasa takut tertinggal informasi atau tren. Detoks digital membantu mengurangi kecemasan sosial dan stres, memberikan ketenangan mental, serta membuat seseorang lebih fokus pada kehidupan nyata.
  • Kesehatan Mental & Produktivitas: Jeda dari layar terbukti meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki suasana hati, dan mengurangi risiko depresi. Tanpa gangguan notifikasi, fokus dan produktivitas harian cenderung meningkat secara signifikan.

BACA JUGA:Dejavu, Fenomena 'Pernah Mengalami' yang Ternyata Tipuan Otak, Waspada jika Sangat Sering Terjadi!

  • Mengurangi Overload Informasi (Kelelahan Kognitif): Otak manusia membutuhkan waktu istirahat dari paparan informasi terus-menerus. Tanpa jeda, otak mengalami kelelahan kognitif yang memicu stres emosional. 

2. Mengapa Tren? (Aspek Gaya Hidup)

  • Gaya Hidup "Koneksi Minimalis" (Gen Z): Generasi muda, khususnya Gen Z, mulai beralih dari gaya hidup serba digital ke pendekatan minimalis. Mereka memprioritaskan kualitas koneksi di atas kuantitas, membatasi waktu layar untuk hidup lebih tenang.
  • Kembali ke Analog (Dumb Phone): Sebagai bentuk perlawanan terhadap kecanduan smartphone, tren dumb phone (ponsel fitur sederhana) kembali populer, terutama di kalangan remaja yang ingin mengurangi distraksi notifikasi.

BACA JUGA:Deretan Manfaat Pure Matcha untuk Kesehatan: Detok Alami, Baik untuk Jantung dan Hati

3. Cara Melakukan Digital Detox

  • Langkah Kecil (Small Steps): Mulai dengan menerapkan aturan "bebas gadget" pada momen tertentu, misalnya saat makan bersama, satu jam sebelum tidur, atau tidak mengecek ponsel segera setelah bangun tidur.
  • Detox Akhir Pekan (Weekend Detox): Mengambil libur total dari media sosial (menonaktifkan notifikasi) atau menghapus aplikasi social media selama dua hari untuk merasakan dampak positif pada mental.
  • Aktivitas Fisik/Offline: Mengganti waktu layar dengan kegiatan hobi yang lebih sehat, seperti membaca buku fisik, olahraga, meditasi, atau berinteraksi tatap muka langsung (face-to-face) dengan teman dan keluarga. 

BACA JUGA:Simak! 9 Tips Jalani Puasa Tanpa Maag Kambuh agar Tetap Nyaman dan Lancar selama Ramadan.

Meski belum dapat digeneralisasi sebagai gambaran seluruh generasi muda, interaksi di kolom komentar menunjukkan adanya kesadaran kolektif mengenai pentingnya mengurangi ketergantungan digital. Praktik sederhana seperti menonaktifkan media sosial sementara atau membatasi waktu penggunaan menjadi langkah yang mulai dicoba.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa di tengah kemudahan akses teknologi, muncul pula kebutuhan untuk memberi jeda. Apakah digital detox sekadar tren atau kebutuhan, respons warganet menunjukkan bahwa keduanya bisa berjalan bersamaan: populer sebagai tren, tetapi dirasakan sebagai kebutuhan pribadi.

Tags :
Kategori :

Terkait