Gus Baha Bahas Munkar-Nakir dan Kisah Umar bin Khattab di Alam Kubur (4)
Ilustrasi Gus Baha dalam sebuah pengajian di Jombang, Jatim. -Youtube eviita multimedia--
KUDUS, DISWAYMALANG.ID–Pembahasan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha tentang Munkar-Nakir tidak hanya berisi cerita yang membuat jamaah tertawa. Di balik guyonannya tentang seorang guru tauhid yang ditanya soal Tuhan, Gus Baha sedang menjelaskan hubungan antara ilmu tauhid, keteguhan iman dan harapan memperoleh husnul khatimah.
Gus Baha juga mengisahkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang ingin mengetahui keadaan Umar bin Khattab setelah berada di alam kubur. Dalam cerita tersebut, Ali mendapatkan kasyaf sehingga dapat menyaksikan pertemuan Umar dengan Munkar-Nakir.
Untuk kisah Umar, Gus Baha pernah menyebut Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani sebagai rujukan. Versi kisah yang serupa juga tercatat dalam Nurudz Dzholam Syarh Aqidatil Awwam karya Syekh Nawawi al-Bantani.
Guru Tauhid Kok Ditanya Munkar-Nakir?
Gus Baha kemudian membuat perbandingan yang sangat khas. Bagaimana kalau orang yang sepanjang hidupnya mengajarkan tauhid justru ditanya tentang tauhid ketika berada di alam kubur?
“Sampeyan tahu ini guru ummul barahin yang tukang ngaji tauhid,” kata Gus Baha dalam sebuah pengajian di Kudus, Jawa Tengah.
Kemudian ia melanjutkan dengan guyonannya: “Lha guru tauhid kok ditanya apa? Tauhid.”
Dalam kesempatan lain, Gus Baha juga menggunakan gambaran serupa tentang guru Madin (Madrasah Diniyah) yang mengajar tauhid. Ia menjelaskan secara sederhana, guru yang sehari-hari mengajarkan tauhid tentu akan merasa lucu jika justru ditanya tentang pelajaran yang selama ini diajarkannya.
“Jangan Kira Semua Orang Ditanya Man Rabbuka”
Dari cerita tersebut Gus Baha kemudian masuk pada pembahasan tentang keadaan manusia di alam kubur. “Jangan kira semua orang ditanya man rabbuka,” ujar Gus Baha.
Ia mengaitkannya dengan konsep keteguhan orang beriman. Gus Baha mengingatkan ayat: “Sabit Allahu ladzina amanu bil-qoulits-tsabit.” Yakni Allah meneguhkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh.
Bagi Gus Baha, pembahasan tentang pertanyaan di alam kubur tidak cukup hanya dilihat sebagai cerita yang menakutkan. Ada persoalan iman dan ketauhidan yang menjadi bekal seseorang.
Karena itu, orang yang sepanjang hidupnya belajar tauhid tidak sekadar menghafal jawaban. Tauhid harus menjadi keyakinan yang benar-benar menetap.
Kisah Sayyidina Ali Melihat Umar
Gus Baha kemudian membawa jamaah kepada kisah Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab. Dalam cerita tersebut, Umar telah wafat dan dimakamkan. Orang-orang kemudian meninggalkan makam, sedangkan Sayyidina Ali masih berada di sekitar kuburan.
Ali, menurut kisah yang disampaikan Gus Baha, penasaran dengan apa yang akan terjadi ketika Umar bertemu Munkar-Nakir.
“Orang kok keras begitu, setiap orang pernah dibentak. Coba berani membentak malaikat atau tidak?” demikian inti guyonan Gus Baha.
Sumber:


