2 tahun Disway Malang

Gus Baha Ingatkan Bahaya Mengambil Otoritas Allah dalam Memahami Agama (4)

Gus Baha Ingatkan Bahaya Mengambil Otoritas Allah dalam Memahami Agama (4)

Ilustrasi Gus Baha dalam sebuah pengajian di Jombang, Jatim. -Youtube eviita multimedia--

MALANG, DISWAYMALANG.ID–KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menjelaskan bahwa salah satu hal penting dalam memahami Al-Qur’an adalah mengetahui siapa yang memiliki otoritas ketika sebuah perintah atau pernyataan disampaikan.

Menurut Gus Baha, konsep tersebut dikenal dengan istilah khitab. Pemahaman tentang khitab menjadi penting karena tidak semua manusia memiliki kewenangan untuk memastikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya.

Khitab Adalah Otoritas

Islam itu agama yang pro-ilmu. Jadi cocok gak cocok, kalau itu satu potensi dibicarakan,” ujar Gus Baha.

Ia kemudian mengajak jamaah memahami istilah khitab. Dalam kajian ulama, khitab berkaitan dengan otoritas dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang berada di bawahnya.

“Khitab itu otoritas dari minal a'la ilal adna. Dari yang lebih kuat ke yang lebih bawah itu namanya khitab,” jelasnya.

Menurut Gus Baha, manusia sering berbicara seolah-olah memiliki kuasa penuh atas sesuatu. Padahal, manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa depan.

Ia memberikan contoh sederhana ketika seseorang berjanji akan memberikan uang kepada orang lain keesokan harinya.

“Saya janji sama Sampeyan, besok datang ke saya, kamu tak kasih uang. Besok saja saya gak mesti hidup. Kalaupun hidup saja uang saya terbakar atau dicuri orang,” katanya.

Karena itu, manusia sebenarnya tidak mempunyai otoritas mutlak atas sesuatu yang belum terjadi.

Hanya Allah yang Memiliki Otoritas Mutlak

Berbeda dengan manusia, Allah memiliki kekuasaan mutlak karena Allah adalah pencipta dan pemilik seluruh kehidupan.

“Sehingga dalam pandangan ulama tafsir itu punya akibat, hanya Allah yang berhak memberi apa? Khitab,” kata Gus Baha.

Ia menjelaskan, manusia bisa memberikan perintah dalam wilayah yang memang menjadi kewenangannya. Namun, manusia tidak boleh merasa mampu memastikan sesuatu yang berada di luar kekuasaannya.

Misalnya, seseorang mengatakan kepada orang lain bahwa jika mengikuti dirinya maka kehidupannya pasti akan menjadi baik.

“Jong kowe nek nurut aku, sok mesti uripmu kepenak,” kata Gus Baha menirukan contoh tersebut.

Sumber: youtube alur hidup

Berita Terkait