2 tahun Disway Malang

Gus Baha Bongkar Logika Nahwu dalam Ar-Rahman: Allah Tak Perlu Dibedakan (6-Habis)

Gus Baha Bongkar Logika Nahwu dalam Ar-Rahman: Allah Tak Perlu Dibedakan (6-Habis)

Gus Baha di depan jemaahnya (ilustrasi)-panca rp-

MALANG, DISWAYMALANG.ID–Gus Baha menjelaskan salah satu persoalan dalam Al-Qur’an melalui cara yang khas: mengajak jamaah memahami ayat sekaligus logika ilmu nahwu yang ada di baliknya.

Ia mengambil contoh kata Ar-Rahman. Dalam ilmu nahwu, kata yang menerangkan kata sebelumnya bisa berfungsi sebagai na’at atau sifat. “Misalnya Ar-Rahman. Mungkin kalau Anda latihan nahwu, Ar-Rahmani itu na’at. Na’at itu sifat.”

Gus Baha kemudian memberikan contoh sederhana. “Sifat itu apa? Sifat umumnya itu misalnya begini. Jaa Zaidun al-alimu.”

Menurutnya, kata al-alimu menunjukkan sifat Zaid. Tetapi mengapa Zaid perlu diberi sifat “alim”? “Sebagai pemisah. Ada Zaidun sing al-jahilu.”

Artinya, ada Zaid yang alim dan ada Zaid yang jahil. Karena itu, sifat tersebut berfungsi untuk membedakan satu orang dari orang lain yang memiliki nama sama.

Gus Baha lalu membawa persoalan tersebut kepada lafaz Allah. “Tapi laisa hunaka ilahun ghairullah. Di luar Allah itu gak ada Tuhan.”

Karena Allah itu tunggal, kata “Allah” tidak membutuhkan sifat sebagai pembeda. “Allah itu tunggal. Allah itu esa. Allah itu satu. Sehingga enggak perlu ada pemisah.”

Kalau Ar-Rahman untuk Membedakan

Gus Baha kemudian menguji pemahaman tersebut. “Kalau kamu katakan Ar-Rahman itu sifatnya Allah untuk memisahkan, memangnya ada Allah yang tidak Rahman?”

Ia melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih sederhana. “Memangnya ada Allah lain yang tidak Rahman?”

Di sinilah, menurut Gus Baha, persoalan nahwu menjadi lebih rumit. Kalau Ar-Rahman dimaknai semata-mata sebagai sifat pembeda, maka seolah-olah ada Allah lain yang tidak memiliki sifat Rahman.

“Betul pendapatnya, Ar-Rahman itu sifatun lil-madhi. Sifat untuk memuji.”

Jadi, menurut penjelasan Gus Baha, penyebutan Ar-Rahman bukan karena Allah perlu dibedakan dari Tuhan yang lain. Allah tidak memiliki tandingan.

Lafaz tersebut justru merupakan bentuk pujian kepada Allah.

Contoh Zainab yang Cantik

Untuk menjelaskan perbedaan tersebut, Gus Baha kembali menggunakan contoh kehidupan sehari-hari. “Misalnya, nyuwun sewu, kamu senang Sri atau senang Zainab?”

Sumber: youtube @dekatmasjid

Berita Terkait