Bantengan Malang: Mengenal Kesenian Tradisional, Karakter Banteng hingga Tradisi Ndadi
Bantengan di Klayatan Sukun--
SUKUN, DISWAYMALANG.ID – Suara musik tradisional terdengar dari kawasan Klayatan, Kemantren Gang Dua, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun. Warga berdatangan, memenuhi sekitar lokasi pertunjukan. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tampak larut menyaksikan sebuah kesenian tradisional yang masih memiliki tempat tersendiri di tengah masyarakat Malang Raya.
Bukan hanya ramai, pertunjukan Bantengan juga menyuguhkan atraksi yang membuat penonton terpaku. Dalam pertunjukan tersebut, sejumlah pemain mengalami kondisi yang oleh masyarakat dan pelaku kesenian setempat disebut ndadi atau kalap.
Suasana pun semakin menarik perhatian. Ada pemain yang tampak mengalami perubahan perilaku ketika berada dalam rangkaian pertunjukan. Bagi sebagian penonton, momen seperti ini menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu.
Namun, Bantengan sejatinya tidak hanya tentang atraksi yang membuat penonton takjub. Di balik topeng dan gerakan banteng, terdapat kesenian tradisional yang telah menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat di wilayah Malang Raya.
Dari Pertunjukan Menjadi Identitas Budaya
Bantengan dikenal sebagai kesenian tradisional yang memadukan berbagai unsur pertunjukan. Sosok banteng menjadi salah satu karakter utama yang ditampilkan melalui properti atau topeng, lengkap dengan gerakan yang menjadi ciri khasnya.
BACA JUGA:Raphinha Jadi Kapten Utama Barcelona, Pemain Brasil Pertama dalam Sejarah Klub
Pertunjukan biasanya semakin hidup dengan iringan musik tradisional dan kehadiran sejumlah karakter lain. Interaksi antarpemain membuat Bantengan tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menghadirkan sebuah pertunjukan yang dinamis.
Bagi masyarakat yang telah akrab dengan Bantengan, kesenian ini bukan sesuatu yang asing. Pertunjukannya dapat hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat dan menjadi ruang berkumpul bagi warga.
Tak heran jika ketika Bantengan digelar, masyarakat dari berbagai usia ikut datang menyaksikan.
Aria Mulya dan Pengalaman Jadi Bagian dari Bantengan
Di antara para pemain yang tampil di Klayatan, ada Aria Mulya, salah seorang yang mengaku sangat menggeluti kesenian Bantengan.
Kecintaannya terhadap Bantengan membuat Aria tidak sekadar datang sebagai penonton. Ia terlibat langsung dalam pertunjukan dan dipercaya untuk tampil.
Bagi Aria, Bantengan memberikan pengalaman tersendiri. Ia mengaku senang ketika mendapatkan kesempatan untuk ikut tampil dan menjadi bagian dari kesenian yang masih hidup di tengah masyarakat.
Dalam salah satu pertunjukan, Aria juga sempat mengalami kondisi yang disebut masyarakat sebagai ndadi.
Sumber:


