1 tahun disway

PMI Kota Batu Lumpuh Akibat Krisis Anggaran, Warga Kehilangan Akses Layanan

PMI Kota Batu Lumpuh Akibat Krisis Anggaran, Warga Kehilangan Akses Layanan

--Tazqia Aulia Zalzabillah

KOTA BATU, DISWAYMALANG.ID-- Warga Kota Batu kini kehilangan salah satu penopang utama layanan kemanusiaan. Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Batu resmi menghentikan seluruh aktivitas sejak awal Agustus 2025.

Penyebabnya bukan karena bencana alam atau konflik lapangan, melainkan krisis anggaran yang membuat roda organisasi tidak lagi mampu berputar.

Pantauan di Jalan Kartini, markas PMI Kota Batu tampak lengang. Pintu kantor terkunci rapat, hanya sebuah papan pengumuman yang berdiri sebagai penanda bahwa layanan donor darah, ambulans, hingga evakuasi pasien sudah tak lagi berjalan.

Kehilangan ini ibarat mencabut denyut nadi darurat bagi masyarakat yang terbiasa bergantung pada respons cepat PMI.

Kepala Markas PMI Kota Batu, Abdul Mutholib, mengungkapkan bahwa sebenarnya PMI sudah beroperasi tanpa dukungan dana sejak Februari lalu.

Selama enam bulan, mereka mencoba bertahan dengan segala keterbatasan. Biaya bensin ambulans, listrik, air, hingga kebutuhan staf ditutup dari kantong pribadi.

“Kami sudah habiskan sekitar Rp 80 juta. Itu semua uang pribadi, bukan dana organisasi,” ujarnya dengan nada berat.

Selama masa kritis itu, solidaritas menjadi bahan bakar utama. Tholib bersama bendahara dan staf rela menyisihkan dana pribadi agar ambulans tetap bisa melaju, telepon tetap aktif, dan layanan donor darah tidak berhenti seketika.

Namun, upaya itu kini menemui jalan buntu. “Ada tiga orang yang benar-benar terdampak langsung: saya, sopir ambulans, dan staf administrasi. Sejak Februari kami tidak menerima honor sepeserpun,” tambahnya.

Menurut perhitungannya, untuk sekadar menjaga layanan minimum, PMI Kota Batu membutuhkan setidaknya Rp 9 juta per bulan.

Angka yang tampak kecil bagi sebuah lembaga, namun ketika tidak ada satu pun rupiah yang masuk, jumlah itu terasa mustahil. Kondisi tahun ini pun disebutnya sebagai yang terburuk sejak ia bertugas.

“Kami minta maaf. Dana talangan sudah tidak ada. Kami benar-benar tidak bisa lagi memaksakan,” ucapnya lirih.

Di tengah kabar penghentian ini, isu konflik internal dan gugatan kepengurusan juga menyeruak.

Namun Tholib memilih menutup pintu pembahasan tersebut. “Kami hanya mengurus pelayanan di lapangan. Soal dinamika organisasi bukan ranah kami,” tegasnya.

Sumber: