1 tahun disway

15 Mei Juga Hari Kesadaran Aksesibilitas Global Pengingat Bahwa Dunia Harus Jadi 'Ramah Untuk Semua'

15 Mei Juga Hari Kesadaran Aksesibilitas Global Pengingat Bahwa Dunia Harus Jadi 'Ramah Untuk Semua'

Hari Kesadaran Aksesibilitas Global Untuk Jadi Pengingat Peningkatan Inklusivitas dan Akses Kepada Kaum Disabilitas-SpoonFullofStrength-

MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Setiap Kamis ketiga di bulan Mei, dunia memperingati Global Accessibility Awareness Day (GAAD) atau Hari Kesadaran Aksesibilitas Global. Tahun 2025 ini, momen tersebut jatuh pada 15 Mei, dan menjadi panggung penting untuk kembali menyuarakan inklusi digital—terutama bagi lebih dari satu miliar orang penyandang disabilitas di dunia.

Tapi GAAD bukan cuma seremoni. Ia adalah pengingat bahwa dunia maya harus “ramah untuk semua”.

Banyak dari kita menikmati teknologi tanpa berpikir dua kali. Bisa scroll, klik, atau mengetik dengan cepat tanpa hambatan.

Tapi tidak semua orang seberuntung itu. Bagi penyandang disabilitas sensorik, motorik, atau kognitif, pengalaman digital bisa jadi penuh tantangan—kecuali jika sejak awal, desain digital memperhitungkan aksesibilitas.

1. Apa Itu Global Accessibility Awareness Day (GAAD)?

GAAD pertama kali diinisiasi oleh Joe Devon dan Jennison Asuncion pada tahun 2012, sebagai bentuk kampanye untuk menyadarkan dunia digital bahwa inklusi bukanlah fitur tambahan, tapi hak dasar. Sejak saat itu, GAAD diperingati oleh berbagai lembaga pendidikan, perusahaan teknologi, dan komunitas aksesibilitas di seluruh dunia.

Tujuan utamanya adalah mendorong diskusi, pembelajaran, dan aksi nyata terkait bagaimana desain digital dapat diakses oleh semua orang—termasuk mereka yang memiliki gangguan penglihatan, pendengaran, mobilitas terbatas, atau kesulitan belajar. Dengan pertumbuhan teknologi yang begitu pesat, isu ini semakin relevan dari tahun ke tahun.

2. Mengapa Aksesibilitas Digital Masih Jadi Masalah Besar

Meski teknologi berkembang pesat, banyak produk digital—mulai dari website hingga aplikasi—masih belum mempertimbangkan pengalaman pengguna disabilitas. Misalnya, tombol tanpa label, teks tanpa kontras, atau video tanpa subtitle. Bagi pengguna tunanetra atau tunarungu, ini bukan cuma merepotkan, tapi memutus akses mereka terhadap informasi dan layanan dasar.

Padahal, aksesibilitas bukan hanya soal empati, tapi juga kewajiban moral dan hukum.

3. Bukan Sekadar Ramah Disabilitas, Tapi Ramah Semua Orang

Seringkali orang berpikir bahwa aksesibilitas hanya menyangkut kelompok kecil. Padahal, fitur aksesibel justru membuat pengalaman digital lebih baik untuk semua orang. Misalnya, subtitle bukan hanya membantu tunarungu, tapi juga bermanfaat bagi yang nonton video tanpa suara di tempat umum.

Hal yang sama berlaku untuk navigasi keyboard, font yang jelas, atau struktur heading yang rapi—semua itu memperbaiki usability secara keseluruhan. Inilah mengapa desainer dan developer perlu melihat aksesibilitas sebagai pendekatan universal, bukan proyek insidental.

4. Siapa Saja yang Termasuk Pengguna Berkebutuhan Aksesibilitas

Sumber: userway