13 Mei, Hari Hummus Sedunia, dari Timur Tengah ke Meja Makan Dunia, Perjalanan Panjang Hummus!
Hummus - Makanan Yang Kaya Akan Sejarah-pinterest-
MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Setiap 13 Mei, dunia memperingati Hari Hummus Internasional. Bagi sebagian orang, ini hanya alasan tambahan untuk ngemil sehat. Tapi bagi banyak orang lain, terutama di kawasan Timur Tengah, Hummus adalah bagian dari identitas dan sejarah panjang. Bukan hanya soal makanan, tapi soal makna.
Hummus memang terlihat sederhana. Pasta lembut berwarna krem, biasanya disajikan dalam mangkuk dengan minyak zaitun dan taburan paprika atau parsley.
Tapi siapa sangka, di balik semangkuk hummus ada cerita ribuan tahun, klaim budaya antarnegara, hingga perdebatan di sidang rekor dunia.
1. Akar Tradisional dari Timur Tengah
Hummus berasal dari bahasa Arab “ḥimmaṣ” yang artinya kacang arab. Dari namanya saja sudah jelas bahwa makanan ini berasal dari kawasan Timur Tengah. Banyak yang menyebut Mesir sebagai tempat awal kemunculan hummus karena manuskrip dari abad ke-13 sudah menyebut campuran kacang arab, cuka, dan tahini. Namun, Lebanon, Suriah, Palestina, dan Israel juga punya versi hummus masing-masing yang khas.
Karena itu, asal-usul hummus sering jadi bahan debat. Siapa yang lebih dulu membuatnya? Siapa yang boleh mengklaimnya? Dalam banyak rumah tangga Timur Tengah, hummus bukan cuma camilan tapi bagian dari tradisi keluarga, disajikan saat sarapan, jamuan tamu, hingga perayaan keagamaan.
2. Perang Budaya dalam Satu Mangkuk
Perebutan hak atas hummus pernah sampai ke meja rekor dunia. Pada 2010, Lebanon memecahkan rekor dunia dengan membuat hummus seberat lebih dari 10 ton, hanya untuk menunjukkan bahwa hummus adalah bagian dari warisan budaya mereka—bukan milik negara lain. Beberapa tahun sebelumnya, Israel sempat mengklaim hummus sebagai bagian dari “makanan nasional” dalam promosi pariwisata.
Kondisi ini memunculkan istilah “hummus wars”. Lucunya, perang ini bukan soal rasa, tapi soal asal. Banyak pihak menganggap klaim sepihak bisa menjadi bentuk kolonialisasi budaya kuliner. Di tengah panasnya debat, hummus tetap disukai semua pihak—mungkin inilah ironi sekaligus keindahannya.
3. Filosofi Sederhana: Makanan Rakyat yang Menyatukan
Hummus adalah makanan rakyat. Bahannya murah, proses memasaknya mudah, dan rasanya fleksibel. Tak heran jika hummus jadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Timur Tengah, dari kampung kecil hingga kota besar. Ia tak pilih-pilih: bisa dinikmati oleh yang miskin maupun kaya.
Uniknya, hummus sering dimakan ramai - ramai. Disajikan di tengah meja, dikelilingi roti pita, zaitun, dan potongan mentimun. Dari satu mangkuk itulah orang berkumpul, ngobrol, dan tertawa. Ada nilai kebersamaan yang terkandung dalam setiap celupan.
4. Bahan Dasarnya Ramah Lingkungan dan Dompet
Kacang arab, tahini, minyak zaitun, bawang putih, dan lemon—itulah bahan dasar hummus. Semua berbasis nabati, mudah ditemukan, dan terjangkau. Karena itu, hummus disebut-sebut sebagai makanan yang ramah lingkungan sekaligus hemat kantong.
Sumber: new lines magazine
