2 Mei, Hari Pendidikan Nasional : Belajar Dari Pedoman Ki Hajar Dewantara, Keteladanan Pendidikan!
Ki Hajar Dewantara dan Trilogi Pendidikannya Yang Harus Diingat Dalam Rangka Hari Pendidikan Nasional 2025-Wikipedia-
MALANG, DISWAYMALANG.ID -- Pendidikan bukan cuma soal nilai, seragam, atau baris-berbaris di upacara.
Ia adalah proses memanusiakan manusia. Dan tak ada tokoh yang lebih tepat untuk menggambarkan filosofi itu selain Ki Hajar Dewantara—pahlawan pendidikan Indonesia yang mengingatkan bahwa guru dan orang tua bukan hanya pengajar, tapi juga contoh hidup bagi anak-anak.
Di tengah perubahan zaman, teknologi, dan kurikulum, kita justru perlu kembali pada nilai dasar yang diajarkan beliau: pendidikan harus berakar pada karakter, semangat, dan dukungan. Dan itu dimulai dari siapa yang berada di depan: teladan.
1. Mengenal Sosok Ki Hajar Dewantara
Ki Hajar Dewantara lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari keluarga bangsawan, tetapi dengan sengaja meninggalkan gelar kebangsawanannya saat berumur 40 tahun agar lebih dekat dengan rakyat biasa. Ia mengganti namanya menjadi "Ki Hajar Dewantara," sebagai simbol bahwa pendidikan sejati harus menjangkau semua, bukan hanya kaum priyayi.
Selain dikenal sebagai tokoh pendidikan, beliau juga seorang penulis, wartawan, dan aktivis politik. Ia pernah diasingkan ke Belanda karena tulisannya yang tajam terhadap pemerintahan kolonial. Dari pengasingan itu, ia mempelajari sistem pendidikan Barat dan merancang sebuah sistem pendidikan nasional yang berakar pada budaya dan kemanusiaan. Ia mendirikan Taman Siswa pada 1922—sekolah yang berani memberi akses belajar bagi semua golongan.
2. Trilogi Pendidikan: Pilar Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak datang dalam bentuk buku tebal atau diktat rumit. Ia dirumuskan dalam tiga kalimat sederhana berbahasa Jawa:
1.Ing ngarsa sung tulada (di depan memberi teladan / contoh)
2.Ing madya mangun karso (di tengah membangun semangat)
3.Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan)
Tiga kalimat ini mencerminkan peran ideal seorang pendidik: menjadi panutan, penggerak, sekaligus pendukung. Bukan penguasa. Bukan penjaga nilai. Tapi pendamping yang memanusiakan peserta didik.
3. Ing Ngarso Sung Tulodo: Menjadi Teladan di Depan
Kalimat ini menjadi fondasi utama dari sistem pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ia percaya bahwa seorang guru atau pemimpin harus terlebih dahulu menjadi panutan dalam sikap, etika, dan kebijaksanaan. Tidak cukup menyuruh anak berlaku sopan; kita sendiri harus bersikap santun. Tidak cukup menyuruh murid membaca; kita pun harus menunjukkan bahwa membaca adalah kebiasaan.
Sumber: wikipedia
