Wayang Gedog, Wayang Berbasis Cerita Panji Jawa Timuran yang Terancam Dilupakan

Wayang Gedog, Wayang Berbasis Cerita Panji Jawa Timuran yang Terancam Dilupakan

--

SETIAP 7 November, Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional. Peringatan ini bukan sekadar penghormatan terhadap kesenian tradisional yang telah tumbuh selama berabad-abad. Tetapi juga momentum untuk mengingat kembali kekayaan tradisi pewayangan Nusantara yang membutuhkan perhatian dan pelestarian.

Penetapan Hari Wayang Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 30 Tahun 2018 merupakan bentuk pengakuan negara terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi pewayangan. Namun, di balik perayaan tersebut, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan: apakah seluruh ragam wayang di Indonesia masih terpelihara dengan baik?

Wayang Gedog Jawa Timuran

Salah satu tradisi yang perlu mendapat perhatian adalah Wayang Gedog Jawa Timuran. Pewayangan ini memiliki hubungan erat dengan cerita Panji, sejarah kebudayaan Jawa, serta kekayaan estetika seni pertunjukan tradisional.

Ironisnya, jejak fisik maupun praktik pertunjukan Wayang Gedog Jawa Timuran semakin sulit ditemukan. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa sebagian kekayaan budaya bisa saja kehilangan ruang hidupnya apabila tidak segera diteliti, didokumentasikan, dan diwariskan.

Penelitian berjudul Inventory, Documentation and Preservation Strategy of Wayang Gedog Jawatimuran through Performance Concept Development: Case Study of Discovery in Mojokerto yang dilakukan Astrid Wangsagirindra Pudjastawa dan Yudit Perdananto. Hasil penelitian diterbitkan dalam jurnal JADECS Universitas Negeri Malang pada 2026. Penelitian ini memberikan perhatian baru terhadap keberadaan Wayang Gedog Jawa Timuran.

Dalam penelusuran tersebut, peneliti berhasil menemukan satu set Wayang Gedog di Mojokerto. Temuan ini penting karena dapat menjadi sumber utama untuk mempelajari karakteristik Wayang Gedog Jawa Timuran yang selama ini masih minim dokumentasi.

Satu set wayang tersebut bukan sekadar kumpulan boneka kulit. Di dalamnya tersimpan jejak pengetahuan mengenai bentuk tokoh, teknik tatah dan sungging, konstruksi gapitan, penggunaan bahan kulit. Hingga kemungkinan rekonstruksi estetika pertunjukan pada masa lalu.

Temuan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian tidak bisa terus ditunda. Ketika bukti fisik yang berhasil ditemukan dalam suatu penelusuran sangat terbatas, inventarisasi dan penelitian lanjutan menjadi semakin penting.

Tentu, temuan satu set tersebut tidak dapat langsung dimaknai sebagai satu-satunya Wayang Gedog yang masih tersisa di seluruh Jawa Timur. Penelitian itu menunjukkan hasil penelusuran di Mojokerto, bukan memastikan bahwa seluruh koleksi lain telah hilang. Namun, kelangkaan jejak yang terdokumentasi sudah cukup menjadi alasan untuk memperluas pencarian dan penyelamatan.


Penulis bersama salah satu karakter Wayang gedog--

Warisan Cerita Panji 

Wayang Gedog memiliki kekhasan yang membedakannya dari Wayang Purwa. Jika Wayang Purwa banyak mengangkat kisah Ramayana dan Mahabharata, Wayang Gedog berakar pada siklus cerita Panji.

Kisah Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji merupakan salah satu warisan naratif penting dalam kebudayaan Jawa. Cerita tentang pengembaraan, kesetiaan, pencarian jati diri, percintaan, kepemimpinan, dan pertemuan kembali ini tidak hanya hidup dalam tradisi sastra. Tetapi juga berkembang melalui berbagai bentuk seni pertunjukan di Nusantara.

Dalam Wayang Gedog, tokoh-tokoh Panji hadir melalui karakter visual yang khas. Penggunaan tekes sebagai penutup kepala, keris, serta busana rapèkan menjadi bagian dari identitas visual yang membedakannya dari bentuk pewayangan lainnya.

Kekhasan itu juga tercermin dalam unsur musikal. Iringan gamelan berlaras pelog, permainan kendhang, rebab, kenong, serta sulukan Jawa Timuran membentuk karakter musikal yang menjadi bagian penting dari pertunjukan.

Sumber: