Dari Kampung Sakura hingga Pasar Dunia, Begini Kiprah Gerkraf Kota Batu

Dari Kampung Sakura hingga Pasar Dunia, Begini Kiprah Gerkraf Kota Batu

Sekretaris Gerkraf Kota Batu, Dwi Lili Indayani-Sholeh-Disway malang

BATU, DISWAYMALANG.ID—Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gerkraf) Kota Batu memperluas kiprahnya dari pendampingan desa hingga pemasaran produk ke luar negeri. Organisasi yang dipimpin Yanwar sebagai ketua dan Dwi Lili Indayani sebagai sekretaris ini terus membangun jaringan pelaku Ekonomi Kreatif sejak tahun 2021.

Perjalanan tersebut dimulai dari pengembangan potensi desa wisata. Gerkraf kemudian menggarap festival. Membangun kolaborasi lintas sektor. Hingga membuka akses promosi bagi produk lokal. Sejumlah program itu menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi kreatif Kota Batu.

Sekretaris Gerkraf Kota Batu Dwi Lili Indayani memaparkan perjalanan organisasi tersebut dalam Seminar Youth Smart Village, Selasa (3/11/2026). Seminar digelar dalam Indonesia Village Expo (INDOVEX) 2026 di stadion Brantas Kota Batu. Kegiatan itu mengangkat tema pengembangan potensi dan inovasi generasi muda desa berbasis teknologi dan kewirausahaan.

Berawal dari Pendampingan Desa Wisata

Gerkraf Kota Batu mulai bergerak pada tahun 2021. Salah satu kegiatan awalnya adalah mendampingi desa wisata dalam merancang konsep bisnis. Desa Puntenrejo menjadi mitra pertama yang diajak bekerja sama.

BACA JUGA:INDOVEX 2026 Dibuka di Kota Batu, 75.266 Desa Indonesia Didorong Tembus Pasar dan Gaet Investor

Saat itu, Gerkraf membantu menyusun kanvas bisnis . Konsep tersebut digunakan untuk memetakan potensi desa dan merancang pengembangannya menjadi kegiatan ekonomi.

Pada tahun 2022, pendampingan mulai diwujudkan melalui kegiatan yang lebih konkret. Salah satunya Festival Flora Sidomulyo. Gerkraf membantu desa melakukan rebranding dan mengembangkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

Program tersebut mendorong lahirnya sejumlah kampung tematik. Di antaranya Kampung Sakura, Kampung Mawar, dan Kampung Matahari.

Dwi Lili menyebut Kampung Sakura masih mampu menjalankan aktivitas ekonominya secara mandiri hingga saat ini. Kampung tersebut menjadi salah satu contoh program pendampingan yang tidak diinginkan. “Ekonominya bisa berputar secara mandiri,” ujar Lili.

BACA JUGA:Desa Wisata Bulukerto Kota Batu: Offroad, Elang Jawa hingga Sumber Umbul Gemulo

Spekta Flora Festival Perluas Kolaborasi

Setelah sempat tidak aktif menjalankan program pada tahun 2023 karena kesibukan pribadi pengurus, Gerkraf kembali mengembangkan kegiatan pada tahun 2024. Jangkauan programnya tidak lagi terbatas di desa. Organisasi ini mulai memperluas kolaborasi melalui Spekta Flora Festival di Batu Love Garden (Baloga).

Festival tersebut melibatkan berbagai pihak. Di antaranya Jatim Park Group, Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI), Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI), Duta Muda Pertanian Indonesia, asosiasi bunga Kalas, dan Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi).

Kolaborasi juga mencakup berbagai subsektor ekonomi kreatif. Potensi bunga dan tanaman hias dipadukan dengan fashion, kuliner, kriya, hingga tata rias.

Pendekatan ini membuka bagi ruang bagi pelaku usaha dari berbagai bidang untuk saling mendukung. Potensi flora Kota Batu pun tidak hanya ditampilkan sebagai produk pertanian, tetapi juga dikembangkan menjadi inspirasi produk kreatif dan kegiatan ekonomi.

Sumber: