Membedah Serat Kalatidha: Ajak Pemuda Jaga Integritas di Tengah Zaman Edan
Alfi bersama Ketua DHC 45 Kota Batu, Sentot saat pembjkaan Jagorama-panca rp-
BATU, DISWAYMALANG.ID – Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Kota Batu menjadi ruang untuk merenungkan kondisi moral bangsa. Melalui Forum Jagorama (Jagongan Rabu Malam) Sesi 6, para budayawan, seniman, tokoh masyarakat, dan aktivis muda mengkaji kembali ajaran dalam Serat Kalatidha karya pujangga Jawa Raden Ngabehi Ranggawarsito.
Diskusi bertajuk “Menyibak Serat Kalatidha, Merawat Eling lan Waspada” itu digelar di Gedung Juang DHC 45 Kota Batu, Kamis (29/10/2026). Peserta diajak menghubungkan pesan klasik tentang kehidupan dan perilaku manusia dengan tantangan moral yang dihadapi masyarakat saat ini.
Tembang Sinom hingga Atraksi Bantengan
Suasana acara dibuka dengan lantunan tembang bermetrum Sinom dari Serat Kalatidha yang dibawakan Sanggar Budaya Darma Pertiwi. Syair Jawa tersebut mengantarkan peserta menyelami warisan pemikiran masa lalu yang dinilai masih relevan untuk membaca persoalan sosial masa kini.
Nuansa tradisi berlanjut melalui penampilan Mbah Agus, tokoh sepuh Pagar Nusa, yang memperagakan jurus pencak silat. Gerakan yang mantap dan lugas itu menjadi simbol pentingnya membangun keteguhan diri sekaligus menjaga keluhuran budi di tengah perubahan zaman.
Paguyuban Bantengan Sumberjoan turut memeriahkan acara melalui atraksi seni Bantengan. Pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menyampaikan pesan tentang keberanian menghadapi ketidakadilan dan melawan keburukan.
Sementara itu, Panca Rachmad Pamungkas menghadirkan musikalisasi puisi tentang hati nurani generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi. Rangkaian pertunjukan seni itu memperkuat pesan bahwa kebudayaan dapat menjadi sarana refleksi sekaligus ruang menyampaikan kritik sosial.
Serat Kalatidha dan Pesan Eling lan Waspada
Budayawan Kota Batu Didik Sumintarjo menjadi pembedah utama dalam diskusi tersebut. Ia mengulas pemikiran Ranggawarsito, khususnya konsep Zaman Edan, yang menggambarkan situasi ketika nilai moral dan perilaku manusia mengalami kemerosotan.
Menurut Didik, Serat Kalatidha yang lahir pada abad ke-19 tidak semata-mata dapat dibaca sebagai ramalan mistis. Karya tersebut juga bisa dipahami sebagai refleksi kritis terhadap perilaku manusia dan persoalan moral yang terus berulang dalam kehidupan masyarakat.
“Zaman bisa berganti dan teknologi terus melesat, namun godaan dasar manusia selalu sama. Kunci agar kita tidak tenggelam dalam arus kebobrokan moral adalah eling lan waspada—ingat kepada Sang Pencipta dan senantiasa menjaga mawas diri,” kata Didik di hadapan peserta.
Ia menilai, pesan Serat Kalatidha memiliki kaitan kuat dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Semangat perjuangan generasi muda, menurutnya, perlu diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menghadapi persoalan sosial, termasuk pragmatisme, gaya hidup hedonis, dan praktik korupsi.
“Pemberontakan dan perjuangan terbaik pemuda hari ini bukanlah dengan ikut-ikutan hanyut dalam arus yang merusak, melainkan dengan berani tampil jujur, merawat nurani, serta mempertahankan integritas meski harus berdiri sendiri,” ujarnya.
Mengatasi Krisis Keteladanan
Penanggung Jawab Acara Alfi Saifullah menjelaskan, pemilihan Serat Kalatidha sebagai tema diskusi bertujuan mengajak masyarakat merefleksikan kondisi kehidupan berbangsa. Ia menilai, tantangan Indonesia bukan semata-mata persoalan kecerdasan, melainkan juga keteladanan kepemimpinan dan kemerosotan moral.
“Sumpah Pemuda 1928 lahir dari kesadaran murni dan keteladanan sikap para pemuda lintas suku dan agama. Sayangnya hari ini, kita justru sering disuguhi krisis kepemimpinan, kompromi etik, dan korupsi yang masif,” ujar Alfi.
Melalui Forum Jagorama, ia berharap diskusi kebudayaan dapat mendorong tumbuhnya pemikiran kritis di kalangan anak muda Kota Batu dan sekitarnya. Warisan pemikiran Ranggawarsito diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan tentang sastra Jawa, tetapi juga menjadi pedoman dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Sumber:









