2 tahun Disway Malang

Limbah Sawit Pangkas Biaya Pakan Ternak hingga 40%, Peternak Malang Raya Didorong Manfaatkan

Limbah Sawit Pangkas Biaya Pakan Ternak hingga 40%, Peternak Malang Raya Didorong Manfaatkan

Ilustrasi Limbah Sawit--

LOWOKWARU, DISWAYMALANG.ID – Limbah kelapa sawit berpotensi menjadi alternatif bahan baku pakan ternak untuk menekan biaya produksi peternak. Pemanfaatan tersebut diperkenalkan dalam workshop Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Laboratorium Pengembangan Ekonomi Pembangunan (LPEP) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga di Malang Raya, 20–22 Oktober 2026.

Program bertema peningkatan nilai tambah limbah kelapa sawit melalui inovasi pakan ternak berbasis ekonomi sirkular itu menyasar peternak dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di bidang peternakan, pakan, serta pengolahan hasil perkebunan.

Ketua LPEP FEB Universitas Airlangga Prof Dyah Wulan Sari, mengatakan pemanfaatan produk sampingan industri sawit dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengatasi tingginya biaya pakan yang selama ini membebani usaha peternakan.


Ketua pelaksana kegiatan Akhmad Jayadi saat workshop produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) --halim/diswaymalang.id

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam workshop, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) nasional mencapai 47,24 juta ton pada 2025, dengan luas areal perkebunan sekitar 16,16 juta hektare. Sementara itu, biaya pakan dapat mencapai 60–70 persen dari total biaya produksi peternakan.

“Produksi sawit kita sangat besar, dan setiap ton minyak yang dihasilkan juga menyisakan produk sampingan seperti solid sawit, bungkil inti sawit, dan pelepah. Sementara peternak menghadapi pakan yang mahal. Dua kondisi ini bisa dipertemukan lewat ekonomi sirkular, yakni limbah dari satu sektor menjadi bahan baku bagi sektor lain,” ujar Dyah.

BACA JUGA:FAST UB dan Great Giant Livestock Kolaborasi Riset Peternakan lewat Dosen Berkarya 2026

Salah satu contoh yang dibahas dalam workshop adalah pengalaman Maulana Akbar, peternak kambing asal Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Ia memanfaatkan solid sawit yang difermentasi dan dicampur dengan hijauan serta konsentrat sebagai pakan ternak.

Dalam uji coba yang dipaparkan, penggunaan pakan tersebut mampu menekan biaya hingga 30–40 persen dibandingkan penggunaan ampas tahu. Selama pengujian 30 hari, beberapa kambing juga mengalami kenaikan bobot sekitar 3–4 kilogram.

Dyah menilai, penerapan metode serupa membutuhkan ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan dan proses pengolahan yang tepat. Karena itu, kemitraan antara peternak dan perusahaan perkebunan sawit menjadi salah satu faktor penting.

BACA JUGA:Bareskrim Selidiki 98 Kasus Karhutla Korporasi, Perusahaan Asing Ikut Disorot

“Bagi peternak di Malang Raya, kuncinya adalah membangun kemitraan pasokan dan memastikan kualitas pengolahan. Dengan begitu, ketergantungan pada pakan komersial bisa berkurang dan usaha lebih efisien,” katanya.

Peternak Dibekali Teknologi hingga Akses Pembiayaan

Ketua pelaksana kegiatan, Akhmad Jayadi, mengatakan workshop tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan potensi limbah sawit, tetapi juga mendorong peserta menerapkannya sebagai peluang usaha.

Sumber: