2 tahun Disway Malang

Gus Baha: Banyak Penikut Belum Tentu Benar, Begini Cara Memahami Dakwah Isam

Gus Baha: Banyak Penikut Belum Tentu Benar, Begini Cara Memahami Dakwah Isam

Ilustrasi Gus Baha dalam pengajian tentang tauhid yang digelar Bayt Al-quran, lembaga Kemenag RI. -youtube baty al-quran----

MALANG, DISWAYMALANG.ID – Kebenaran tidak selalu ditentukan oleh banyaknya orang yang mengikuti atau membenarkannya. Dalam dakwah Islam, jumlah pengikut dan ukuran sosial lainnya tidak bisa menjadi satu-satunya patokan untuk menilai benar atau salahnya sebuah ajaran.

Pandangan tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha dalam pengajiannya. Pengasuh Pondok Pesantren LP3IA Narukan, Rembang, ini mengajak umat memahami agama secara mendalam, bukan sekadar melihat sesuatu dari ukuran yang tampak di permukaan.

Bagi Wakil Rais Aam PBNU periode 2026–2031 tersebut, pembahasan agama perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Kebenaran, dakwah, kekayaan, kemiskinan, dan ibadah tidak semestinya dinilai hanya berdasarkan ukuran sosial yang mudah dilihat manusia.

Kebenaran Tidak Bergantung pada Banyaknya Pengikut

Dalam kehidupan sosial, sesuatu yang didukung banyak orang sering dianggap benar. Sebaliknya, pandangan yang hanya diikuti sedikit orang kerap dipandang sebelah mata. Namun, banyaknya pengikut tidak otomatis menjadi bukti bahwa sebuah pendapat benar.

Gus Baha mengajak jemaah melihat persoalan agama dengan ukuran yang lebih mendasar. Kebenaran harus dipahami berdasarkan landasan dan substansinya, bukan hanya popularitas atau banyaknya orang yang menyetujui.

Prinsip ini penting dalam dakwah. Keberhasilan menyampaikan ajaran Islam tidak semestinya hanya diukur dari jumlah jemaah, besarnya pengaruh, atau ramainya orang yang mengikuti seorang penceramah.

Dakwah Perlu Memperhatikan Kehidupan Sosial

Dalam pembahasan dakwah, santri kesayangan KH Maimoen Zubair ini juga menekankan pentingnya memahami hubungan antara ajaran agama dan kehidupan masyarakat. Dakwah tidak berlangsung di ruang kosong, namun berhadapan dengan kebiasaan, keadaan, dan persoalan nyata manusia.

Karena itu, ukuran sosial dapat membantu memahami keadaan masyarakat. Tetapi tidak bisa menggantikan prinsip kebenaran agama. Banyaknya pengikut, misalnya, dapat menunjukkan jangkauan dakwah. Namun, tidak dengan sendirinya membuktikan kedalaman pemahaman atau kualitas pengamalan ajaran.

Dakwah juga tidak cukup berhenti pada penyampaian kata-kata. Ajaran yang disampaikan perlu memiliki makna dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk dalam cara seseorang memperlakukan orang lain dan menyikapi persoalan sosial.

Al-Qur'an Bukan Sekadar untuk Dibaca

Dalam pengajian tersebut, pembahasan juga menyentuh kedudukan Al-Qur'an  dalam kehidupan umat Islam. Al-Qur'an bukan hanya dibaca atau dilantunkan, tetapi juga menjadi petunjuk yang perlu dipahami dan diterapkan.

Membaca Al-Qur'an merupakan ibadah. Namun, memahami pesan dan menjadikan petunjuknya sebagai dasar menjalani kehidupan juga merupakan bagian penting dari hubungan seorang muslim dengan kitab suci.

Sumber: youtube al qolbu

Berita Terkait